Renungan Diri: Tuhan, Tuan di atas semua Tuan, Tuan Yang Dipertuan oleh Tuan-Tuan lain

buku Panca Aksara

Cover Buku Panca Aksara

“Setiap orang, setiap anak manusia, bahkan setiap makhluk, sejak awal mulanya alam ini — sesungguhnya mendambakan satu hal saja. Yaitu: Kebahagiaan Sejati.

“Ketika otaknya belum cukup berkembang, daya pikir serta intelejensianya masih minim — ia memahami apa yang didambakannya itu sebagai keinginan untuk ‘sesuatu’. Sesuatu yang ‘dianggapnya’ dapat membahagiakan dirinya.

“Saat itu, ia belum mampu medefinisikan kebahagiaan. Kenikmatan indera dan kenyamanan tubuh dianggapnya sudah cukup membahagiakan. Dalam perjalanan panjang menuju kebahagiaan, dalam pencahariannya itu – manusia menemukan dan menciptakan banyak hal yang membuat tubuhnya menjadi sedikit lebih nyaman. Ia juga sibuk memuaskan inderanya.

“Ternyata, semuanya itu tidak memuaskan juga.

“Ia masih saja mendambakan sesuatu, mencari sesuatu yang ‘lebih’. Ia mencari kelanggengan dalam pengalamannya….Masa yang cukup panjang dilaluinya sebelum ia dapat menyimpulkan bahwa, ‘Adalah Kebahagiaan Sejati atau Aanand yang sedang kucari!’

“Manusia ingin bahagia, ia mendambakan kebahagiaan….. Tetapi, bukanlah kebahagiaan biasa, kebahagiaan sesaat. Ia menginginkan Kebahagiaan yang Kekal, Abadi, Langgeng — Kebahagiaan Sejati. Kebahagiaan yang tak pernah berakhir, tak pernah melentur, tak pernah berkurang. Tak pernah hilang.

“Sekali Bahagia, Tetap Bahagia.

“Kebahagiaan seperti itulah yang diinginkan manusia. Ia kecewa dengan kenikmatan sesaat yang diperolehnya lewat panca-indera. Ia tidak puas dengan kenyamanan sekadar yang diperolehnya bagi tubuh. Ia mulai mencari keabadian, kelanggengan, immortality!

“Kehidupan yang ‘berlangsung’ antara titik kelahiran dan kematian – menjadi tidak berarti. Ia mulai bertanya: ‘Adakah sesuatu di balik kedua titik itu?’

“Adakah jenis dan bentuk kehidupan lain sebelum kelahiran dan setelah kematian? Satu pertanyaan memunculkan pertanyaan yang lain. Gudang otaknya terpenuhi oleh pertanyaan, tanpa satu pun terjawab.

“Ia mencari jawaban di luar…. justru pencariannya itu menambah segudang pertanyaan baru. Maka Manusia Intelijen Pertama mulai mencari jawaban di dalam dirinya sendiri.

“Dengan memejamkan kedua matanya, temyata ia dapat menutup diri bagi dunia. Dengan menyumbat kedua telinganya dengan jari, ia pun dapat memisahkan diri dari kebisingan di luar.

“Ia menemukan sembilan lubang pada badannya….Ternyata lewat kesembilan lubang ini ia berinteraksi dengan dunia. Dua Mata, Dua Telinga, Dua Lubang Hidung, Satu Mulut, Dubur dan Alat Kelarnjn.

“Adakah yang kesepuluh?

Pikiran, ya barangkali pikiran — Mind. Ketika sembilan lubang pada badannya tertutup — ia masih bisa berhubungan dengan dunia lewat pikirannya. Ia masih bisa berinteraksi dengan dunia. Walau, interaksi seperti itu ‘tidak jelas’ dua-arah. ‘Tampak’-nya searah, satu arah.” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post)

 

“Kelak ia akan menemukan kekuatan pikiran yang sesungguhnya jauh lebih dahsyat dari kekuatan lima indera yang dimilikinya. Dan, ia pun akan menyebutnya Indera Keenam. Adalah mind atau pikiran yang dimaksudnya dengan indera keenam tersebut.

“Manusia menemukan sebuah sistem, sebuah mekanisme yang super-canggih di dalam dirinya sendiri. Dan, ia mulai meraba-raba, mulai berandai-andai — di balik mekanisme yang super-canggih ini pastilah ada mekanik yang super-super canggih. Dalam kegagapannya, super mekanik atau super mekanisme itu disebutnya All That Is, Brahman, YHV, Allah….. Kesadaran yang telah mengantarnya pada kesimpulan itu adalah Buddha – Kesadaran Murni. Jalan yang ditempuhnya, proses yang dilewatinya adalah Tao. Ah, ah, ah, ternyata…..Orang Melayu menyebutnya Tuan di atas semua Tuan. Tuan yang dipertuan oleh tuan-tuan lain — Tuhan!

“Tuhan berada dibalik segala kejadian. Tuhan melampaui awal dan akhir. Ia sudah ada sebelum awal, dan akan tetap ada setelah titik akhir. Kesimpulan-kesimpulannya tidak logis, sebab itu ia ‘merasa’ bahwa kesimpulan-kesimpulan tersebut pun ‘datang’ dari Tuhan. Yang berada di atas segala logika.

“Justru karena tidak logisnya kesimpulan-kesimpulan tersebut — ia makin percaya pada Hyang Maha Ada, Widhi yang Menentukan segala-galanya. ‘Dari mana saya dapat menyimpulkan hal-hal seperti ini?’ – dan, ia pun mulai memuji-Nya:

Kau telah memberi kata-kata kepada lidah yang sebelumnya tidak mengenal bahasa;

Kau telah rnenunjukkan jalan yang terang kepada diriku yang selama ini meraba dalam kegelapan;

Engkaulah Awal dan Akhir bahkan melampaui keduanya;

Wahai Tuhan, Gusti Allah – Engkaulah Segalanya….

“Pujian-pujian seperti itu membahagiakan dirinya. Ia merasa telah menemukan sesuatu yang sangat berharga. Demikianlah tercipta atau turunnya agama-agama manusia.

“Demikian menurut pemahamanku.

“Tuhan, Kebahagiaan…

“Brahman, Aanand…. Tuhan Maha Membahagiakan …… Tuhan adalah sebutan lain bagi Kebahagiaan Sejati. Tuhan itulah Kebahagiaan. Tuhan itulah Kebahagiaan Sejati!

“Kesimpulan berikutnya:

“Kebahagiaan Sejati tidak dapat diperoleh dari kebendaan yang tidak kekal, tidak abadi, yang senantiasa berubah bentuk dan berpindah tangan….” (Krishna, Anand.  (2007). Panca Aksara Membangkitkan Keagamaan dalam Diri Manusia. Pustaka Bali Post) Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s