Renungan #Gita: Memuja Tuhan-Aniaya Sesama? Cium Tangan Pejabat-Alam Yang Dia Urus Diinjak?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Hubungan manusia dengan alam dan sesama makhluk hidup bukanlah hubungan horizontal, pun hubungan kita dengan Tuhan bukanlah vertikal. Tuhan tidak berada di atas sana, di lapisan langit kesekian. Pemahaman vertikal-horizontal seperti ini telah memisahkan kita dari alam. Tuhan berada dimana-mana, Ia meliputi segalanya, sekaligus bersemayam di dalam diri setiap makhluk inilah inti ajaran leluhur kita. Inilah kearifan lokal kita. Dan, hanyalah pemahaman seperti ini yang dapat menyelamatkan kita dari kemusnahan dan kehancuran. Berikut penjelasan Bhagavad Gita perihal tersebut:

 

Bhagavad Gita 17:14

“Memuja para dewa (menghormati dan melestarikan alam yang menunjang kehidupan); menghormati para bijak (yang senantiasa berupaya untuk hidup dalam Kesadaran Jiwa), para guru pemandu rohani, mereka yang lebih tua, dan para suci yang telah lepas dari keterikatan duniawi; senantiasa memelihara kesucian diri; kejujuran, kemuliaan; pengendalian-diri dan pengembangan kreativitas brahmacarya); tidak menyakiti, melukai dan melakukan tindakan kekerasan lainnya —semua itu adalah ‘Tapa-Brata Ragawi’, badaniah.” Bhagavad Gita 17:14

 

“Tapa-brata adalah disiplin yang muncul dari kesadaran diri, bukan karena paksaan, takut api neraka, atau tekanan batin lainnya.

“Dalam rangka inilah,

“KRSNA MENGANJURKAN ‘PEMUJAAN’ – Ya, pemujaan. Bukan sekadar menghormati dewa, elemen-elemen alami seperti air, api, tanah, udara dan eter (substansi ruang) — elemen-elemen penunjang kehidupan — tetapi memuja mereka. Mengagungkan mereka, memuliakan mereka.

“Selama ini, kita sudah terlampau banyak dicekoki pemahaman-pemahaman keliru oleh mereka yang tidak memahami peradaban dan nilai-nilai budaya spiritual yang berasal dari peradaban luhur kita sendiri.

“HANYALAH TUHAN YANG PATUT DISEMBAH!” Ya, betul. Tapi, dengan cara apa? Di manakah Tuhan yang akan kita sembah? Di tempat ibadah saja? Di barat? Di timur? Di utara? Di selatan? Di puncak gunung? Di tepi sungai atau laut? Di tengah hutan? Di gurun sahara? Di manakah Tuhan yang akan kita sembah?

“Pratima atau patung, lukisan, kaligrafi, tulisan-tulisan suci, bahkan alam semesta — semuanya mengagungkan Tuhan! Para suci adalah ungkapan dari kesucian-Nya. Jika kita tidak dapat menyaksikan keajaiban-Nya di dalam dan lewat setiap makhluk ciptaan-Nya, maka kita akan tetap merusak lingkungan, menyembelih sesama makhluk hidup, dan memisahkan Sang Maha Pencipta dari Ciptaan-Nya.

“INILAH SEBAB UTAMA KEHANCURAN DI DUNIA – Dengan memisahkan Sang Maha Cipta dari ciptaan-Nya — kita bisa dengan seenaknya menginjak-injak ciptaan-Nya, kemudian mengagung-agungkan Tuhan, dan menganggap bahwa dengan cara itu kita terbebaskan dari tanggungjawab atas kezaliman, ketidakadilan, kekejaman, dan segala macam kekerasan yang kita lakukan.

“Memuja berarti menjunjung tinggi.

“Apa salahnya kita menjunjung tinggi bumi, bersungkem padanya, mencintai dan menghormatinya? Bukankan ia lebih awal diciptakan? Bukankah ia telah menopang kehidupan selama miliaran tahun‘?

“SAAT MENGHADAPI PETINGGI – Kita menundukkan kepala, mencium tangannya, tapi sulit menghormati pepohonan, tumbuh-tumbuhan yang adalah sumber kehidupan.

“Mudah bagi kita untuk menghormati seorang pejabat yang mengurusi energi, perairan, peternakan, dan sebagainya — tapi sulit menghormati energi itu sendiri, air itu sendiri, udara itu sendiri. Kemunafikan macam apakah ini?

“Tuhan dipuja, tapi alam tidak dihormati, malah diinjak-injak. Sesama manusia dianiaya, dan semuanya demi kekuasaan dan kenikmatan sesaat. Tidak, kemunafikan semacam ini bukanlah nilai spiritual, ataupun nilai kehidupan yang diajarkan oleh Gita.

“Bertapa untuk menjalani laku-spiritual bukanlah mengasingkan diri selama 10 hari, 21 hari, atau bahkan seumur hidup. Bertapa adalah berkarya; berkarya dengan semangat manembah. Bertapa adalah hidup dan menghidupi!” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com

Catatan Terkait: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/06/09/renungan-diri-menghormati-kehidupan-di-balik-segala-macam-wujud-bukan-animisme/

Advertisements

One thought on “Renungan #Gita: Memuja Tuhan-Aniaya Sesama? Cium Tangan Pejabat-Alam Yang Dia Urus Diinjak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s