Renungan Diri: Sudahkah Kita Bersemangat Lakukan Tugas & Kewajiban, Swadharma Kita?

buku life workbook

Cover Buku Life Workbook

“Di Medan Perang Kurukshetra, Krishna menjelaskan swadharma kepada Arjuna. Kutipan-kutipan di bawah ini diambil dari percakapan ketiga dalam Bhagavad Gita yang saya sadur secara bebas:

Berkaryalah sesuai dengan kemampuan dan kewajibanmu. Janganlah engkau sekadar ikut-ikutan memilih suatu pekerjaan yang tidak sesuai dengan sifat dasarmu, tidak sesuai dengan kemampuanmu.

“lnilah checkpoints yang paling jelas untuk menentukan swadharma. Pertama, kita harus mengetahui sifat dasar kita. Untuk mengetahuinya sebenarnya tidak sulit, karena hanyalah ada dua sifat dasar. Yang satu mengutarnakan rasa, yang lain mengutamakan pikiran. Yang satu menyentuh hati, yang lain menyentuh otak. Yang satu mencetak seniman, yang lain mencetak saintis.

“Seperti apakah jiwa Anda? Jiwa seorang seniman atau seorang saintis? Jika jiwa kita jiwa seorang seniman dan kita berprofesi sebagai peneliti, dokter, politisi, atau prajurit, sudah pasti kita menderita seumur hidup, karena semua pekerjaan itu membutuhkan otak, bukan hati. Sebaliknya, jika kita memiliki jiwa seorang saintis, dan berprofesi sebagai musisi atau penari, kita pun pasti gagal dan menyebabkan penderitaan bagi diri sendiri.

“Setelah itu, pelajarilah kemampuan diri. Jangan melakukan sesuatu di luar batas kemampuan, kecuali kita ingin meningkatkan kemampuan diri. Dan keinginan itu disertai dengan upaya nyata, dengan kerja keras untuk mencapainya.

“Jadi, dua check-points utama adalah:

  1. Ketahuilah sifat dasarmu,
  2. Kenalilah kemampuan dirimu.

 

“Masih ada beberapa checkpoints, yang merupakan nasihat Krishna kepada Arjuna dalam hal melaksanakan swadharma. Masih dari percakapan ketiga dalam Bhagavad Gita:

Bila kau hanya berkarya demi kepentingan pribadi, tak pernah berbagi dan tak peduli terhadap alam yang senantiasa memberi, maka sesungguhnya kau seorang maling.

Berkaryalah dengan semangat ‘menyembah’. Persembahkan hasil pekerjaanmu kepada Yang Maha Kuasa dan nikmati segala apa yang kau peroleh dari-Nya sebagai tanda kasih-Nya!

Waspadai setiap tindakanmu. Bertindaklah dengan penuh kesadaran. lnilah persembahan yang dapat mengantarmu pada kepuasan diri.

Bila kau puas dengan diri sendiri, dan tidak lagi mencari kepuasan dari sesuatu di Iuar diri, maka kau akan berkarya tanpa pamrih.

Sesungguhnya seorang pekerja tanpa pamrih sudah tak terbelenggu oleh dunia. Jiwanya bebas, namun ia tetap bekerja, supaya orang Iain dapat mencontohinya.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Beberapa checkpoints tambahan, sekaligus pedoman bagi pelaksanaan swadharma:

  1. Apakah aku puas dengan apa yang kulakukan?
  2. Apakah pekerjaanku bermanfaat bagi lingkunganku, bukan bagi diriku saja?

 

“Tidak ada satu pun pekerjaan tanpa hasil. Diharapkan atau tidak, hasil tetap ada. Karena itu, janganlah memboroskan energi dengan memikirkan hasil melulu. Berkaryalah dengan tekun dan penuh semangat, pusatkan seluruh energi pada pekerjaan. Hasilnya pasti bagus; tidak perlu diragukan Iagi.

“Bila kita masih memikirkan hasil, dan tidak bisa bekerja tanpa harapan akan imbalan, pikirkan ‘kepuasan diri’. Jadikanlah itu sebagai harapan. Itulah hasil yang paling nikmat, karena Iangsung menyentuh pusat diri kita, batin kita. Kemudian, hasil materi yang kita peroleh menjadi tambahan yang menambah kenikmatan.

“Seorang politisi, wakil rakyat atau pejabat pernerintah telah melaksanakan swadharma mereka dengan baik, jika apa yang dilakukannya itu bermanfaat bagi negara dan bangsa, dan tidak hanya bermanfaat bagi kelompok, partai politik, apalagi diri mereka sendiri.

“Seorang pengusaha telah melaksanakan swadharmanya dengan haik, jjka usahanya bermanfaat bagi banyak orang, dan bukan hanya bagi keluarga dan kerabatnya saja.

“Seorang pekerja telah berswadharma dengan baik, jika pekerjaannya rapi dan selesai dalam kurun waktu yang telah ditentukan, sehingga tidak menyusahkan dan menyulitkan pihak mana pun.

“Dan, seorang cendekiawan seharusnya menggunakan kecendekiaannya untuk menciptakan harmoni, bukan konflik. Itulah swadharma kaum cendekiawan, kaum alim-ulama, kaum terpelajar.

“Siddhartha lahir sebagai putra seorang raja. Bisa saja ia menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja, tetapi ia bertanya-tanya, ‘Aku lebih bermanfaat sebagai raja, atau sebagai pengembara sehingga dapat menyebarkan kesadaranku?’ Siddhartha sudah tercerahkan saat ia meninggalkan istana, tapi selama enam tahun mengembara sesungguhnya ia masih bingung, ‘Apa yang harus kulakukan dengan pencerahanku ini? Dengan kesadaranku ini?’

“Selama itu pula ia sering berpikir, ‘Apakah tidak lebih baik kembali ke istana? Kesadaran yang kuperoleh ini dapat kuteruskan kepada para petinggi dan rakyat jelata di negeriku sendiri!’

“Ia membutuhkan Waktu enam tahun untuk menimbang, untuk mengevaluasi diri dan menentukan sikap. Tentunya selama itu proses kesadaran, proses pencerahan berjalan terus. Ia tambah sadar, tambah cerah, maka akhirnya ia memutuskan untuk mengembara. Untuk menyebarluaskan “kesadarannya ke seluruh pelosok India. Dengan cara itu, kelahirannya di dunia menjadi lebih bermanfaat.

“Itu Siddhartha. Itu dulu.” (Krishna, Anand. (2007). Life Workbook Melangkah dalam Pencerahan, Kendala dalam Perjalanan, dan Cara Mengatasinya. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

Dalam buku Life Workbook ini kemudian diberikan contoh kehidupan seseorang dalam masa kini……

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s