Renungan #Gita: Ambisi, Dibungkus Sampul Positive Thinking pun Landasannya Keserakahan?

 

buku bhagavad gita ambisi

Bhagavad Gita 16:13

“Mereka selalu berikhtiar: ‘Hari ini aku sudah berhasil, besok lebih berhasil lagi. Hari ini sekian banyak hartaku, besok bertambah lagi.’” Bhagavad Gita 16:13

 

“Inilah pelajaran para motivator ‘beken’ dunia sejak awal abad 20 hingga hari ini. Inilah yang menyebabkan terjadinya industrialisasi ‘berlebihan’. lnilah yang berada di balik kisah kegagalan ekonomi. Inilah yang menyebabkan berbagai macam krisis — dari krisis lingkungan hidup, ekonomi, politik, keamanan, hukum, dan sebagainya – hingga krisis yang paling gawat, krisis yang disebabkan oleh hilangnya atau terlupakannya jati-diri, krisis kesadaran!

“AMBISI, HARAPAN, EKSPEKTASI – sebutan apa pun yang kita benkan kepada ‘cara berpikir’ seperti ini, sekalipun dibungkus rapi dengan kertas sampul positive thinking — landasannya adalah lobha, keserakahan.

“Dan keserakahan membawa bencana.

“Keserakahan membuat kita menjadi keras, kaku, alot, dan berdarah-dingin. Kita akan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri, untuk mendapatkan kedudukan, pujian, penghargaan, apa saja.

“LALU, APAKAH ‘AMBISI ITU TIDAK BOLEH? Perkaranya bukanlah boleh atau tidak. Perkaranya adalah bahwa ambisi adalah cocok bagi mereka yang bersifat syaitani; mereka yang belum mengenal nilai-nilai hidup dan kehidupan yang lcbih tinggi, mereka yang masih bodoh.

“Ambisi tidak bisa tidak membuat diri kita menjadi serakah. Kenapa? Karena ambisi adalah opsi bagi mereka yang belum cukup percaya diri. Ambisi adalah ‘pikiran dan khayalan seorang anak kecil’:Aku mau jadi gede, mau jadi besar, mau jadi tinggi seperti papi. Aku mau jadi cantik seperti mami. Aku mau jadi guru, aku mau jadi perawat, aku mau jadi presiden, pilot, preman, pengusaha, pemabuk, penjudi, atau salah satu dari sekian banyak pe-pe- yang lain. Ini adalah ambisi.

“Silakan menoleh ke belakang, apakah kita menjadi presiden? Berapa banyak anak di antara jutaan atau ratusan juta anak yang berambisi untuk menjadi presiden, dan akhirnya menjadi presiden?

“Selama ini, saya hanya mendengar satu, ya…

“HANYA SATU KISAH SUKSES SAJA – Maksudnya, yang terkait dengan ambisi untuk ‘menjadi presiden’. Yaitu, kisah sukses Presiden Clinton. Ketika masih menjadi pelajar, ia pernah bertemu dengan Presiden Kennedy, dan berkhayal bila kelak dia pun akan menjadi presiden.

“Setidaknya demikian menurut kisah yang pernah saya baca. Dan ia berhasil! Bingo! Tidak semua orang semujur Bill Clinton. Dan sesungguhnya keberhasilan Clinton pun bukanlah semata karena kemujuran atau ambisinya, tapi karena kerja kerasnya untuk mencapai kedudukan tersebut. Jadi bukan sekadar ambisi, ekspektasi, dan sukses; bukan sekadar berkhayal, meminta, berkhayal lagi seolah sudah meraih apa yang diinginkan, berhenti melamun — sim salabim — dan kita menerima kunjungan dari seorang Genie, “Master: your wish is my command — silakan rneminta apa saja. Keinginan, kehendakrnu adalah perintah bagiku.’ Tiba-tiba kita sudah berada di Gedung Putih!” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

“TIDAK, HIDUP INI BUKANLAH KISAH HARRY POTTER – Silakan menikmati dan menghibur diri dengan kisah-kisah 1001 malam – tetapi hidup ini bukanlah urusan malam saja.

“Ambisi kerap menjadi pengganti-konyol percaya diri.

“Seorang petani tidak berambisi, ia menyangkul savvahnya, menanam benih, memupukinya, dan menikmati hasilnya. la pun sadar sesadar-sadarnya bila cuaca dan masih banyak faktor lain berada di luar kendalinya.

“Ia berdoa, dalam pengertian ia memberkati sawahnya — dan sawah itu menjadi berkah baginya. Jika tidak ada petani yang rnenyangkul sawahnya setiap pagi, Anda dan saya mesti mengonsumsi makanan sintetis buatan pabrik, dalam bentuk pil berwarna-warni. Pil kuning untuk jagung; hijau untuk kangkung; putih untuk nasi, dan sebagainya, dan seterusnya.

“Sementara itu, lihatlah keadaan mereka yang selama ini percaya pada kekuatan ambisi. Kendati sudah menjadi kaya-raya, apakah mereka bahagia? Sudah menduduki posisi tinggi, apakah mereka tenang? Sudah berhasil meraih penghargaan, apakah mereka tentram? Sudah memiliki tabungan di Swiss, apakah mereka damai?

“Sehatkah orang nomor satu di belahan dunia mana saja? Seberapa besar tingkat stres yang dideritanya? Ambisi melahirkan para ekonom dengan berbagai macam gelar, hasilnya harga bawang, dan buncis pun tetap saja melejit tanpa kendali!

“DULU KITA MENGENAL SEORANG PEMIMPlN yang adalah anak seorang petani. Ia sendiri selalu bangga menyebut dirinya petani. Saat itu kita swasembada pangan. Tidak banyak buah-buahan dan sayuran impor. Toh, kita bisa survive, kan!

“Kesimpulannya?” ada yang bertanya, “Anda anti-ambisi?” Sekali lagi, si penanya tidak memahami maksud saya. Saya tidak anti-ambisi. Saya tidak membenci nyamuk, saya tidak anti-nyamuk. Hanya saja, saya tidak akan menjamunya di dalam rumah. Jika saya menjadi anti-nyamuk, maka bepergian ke mana pun, semprotan anti nyamuk akan menjadi perlengkapan utama saya.

“AMBISI BERGUNA BAGI ANAK-ANAK KECIL yang belum bisa membedakan antara peran pilot, presiden, pengusaha, pengacara, pendidik, dan pelacur!

“Jika kita sudah bisa membedakan, memilah, dan memilih apa yang cocok bagi kita, apa yang sudah sesuai dengan potensi diri kita, maka berkaryalah untuk mewujudkannya. Tidak perlu berambisi-ria lagi.

“Ambisi ibarat mainan mobil-mobilan. Silakan bermain jika kita masih menganggap diri sebagai seorang anak, belum mau mencoba boom-boom car, permainan simulasi yang lebih canggih; atau belum berani, belum cukup dewasa untuk mengemudikan kendaraan yang sebenarnya.

“ Saat bennain dengan mobil-mobilan, silakan berambisi, ‘Nanti kalau sudah gede, aku beli mobil benaran’.

“Tapi, kalau sudah gede, sudah memiliki mobil ‘benaran’ — maka tidak perlu berambisi lagi.Gunakan, kendarailah kendaraan kita sesuai dengan kebutuhan kita.

“Mau tukar-tambah, mau beli model baru, mau beli pesawat? Silakan kerja keras, kumpulkan uang. Hanya sekadar berarnbisi saja tak akan membantu — Get real! Bekerja dan berkaryalah tanpa keserakahan. Tanpa merugikan atau mengabaikan kepentingan orang lain.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s