Renungan Masnawi: Kisah Tukang Kebun Mengusir Tamu Ketidaksadaran dari Kebun Kehidupan

buku masnawi 2 diperbesar

Cover Buku Masnawi Dua

Seorang tukang kebun melihat tiga orang asing memasuki kebunnya. Pertama, seorang hakim yang korup; kedua, seorang pejabat yang tidak jujur; dan ketiga, seorang penipu berjubah sufi. Tiga-tiganya jahat, tetapi bagaimana mengusir mereka? Mereka bertiga dan Si Tukang Kebun hanya seorang diri.

Si Tukang Kebun berpikir, “Aku harus memisahkan mereka. Selama masih bersaru, sulit mengusir mereka.”

Maka dia menghampiri mereka, “Silakan duduk, tetapi sebaiknya di atas alas. Bila tidak keberatan, wahai Darvish, ambilkan alas duduk dari pondok saya di sana.”

Setelah darvish palsu itu meninggalkan mereka, Si Tukang Kebun bicara dengan Si Hakim, “Wahai Hakim Agung, Bapak adalah seorang ahli hukum. Apa pun yang kita lakukan harus berdasarkan hukum yang Bapak tetapkan. Dan, teman Bapak, Pejabat Tinggi, adalah seorang Sayyid, masih memiliki hubungan darah dengan Nabi Muhammad. Masa Bapak-Bapak ini bersahabat dengan seorang Darvish berpakaian compang-camping? Untuk apa? Silakan tinggal di kebun ini selama satu minggu, tetapi saya tidak rela kaiau Si Darvish itu tinggal bersama Bapak-Bapak sekalian.”

Demikian, tukang kebun yang pintar itu berhasii meracuni mereka. Sekembalinya, Si Darvish itu mereka usir. Tinggal berdua—Si Hakim dan Si Pejabat.

Selanjutnya, tukang kebun mempersilakan Sang Pejabat memasuki pondoknya untuk mengambil roti, sehingga tinggal dia berdua dengan Hakim, “Wahai Hakim Agung yang berpikir jernih, percayakah Bapak bahwa Pejabat itu seorang Sayyid? Percayakah bahwa dia masih punya hubungan darah dengan Nabi Muhammad? Apa buktinya? Usirlah dia dari kebun ini. Dan tinggallah di dalam kebun ini bersama saya.”

Seperti Si Darvish Palsu, Si Pejabat Tinggi yang tidak jujur itu pun kena gusur. Tinggal Sang Hakim seorang diri. Mudah sekali bagi Si Tukang Kebun untuk mengusirnya, “Keluarlah dari kebun ini. Adakah hukum yang memperbolehkan seseorang memasuki kebun orang lain, tanpa izin, tanpa diundang?”

Si Hakim baru sadar bahwa dirinya dan teman-temannya telah menjadi korban siasat Si Tukang Kebun, “Baiklah, usir aku. Memang sepantasnya demikian, karena aku telah mengusir kedua sahabatku. Aku telah mengkhianati mereka.”

 

Kisah ini memiliki beberapa sisi. Dilihat dari sisi tukang kebun yang mewakili “kesadaran diri”, tiga orang “asing” yang memasuki “kebun kehidupannya” adalah:

Pertama—Ahli Hukum. Apa kerjaan seorang ahli hukum? Dia memilah, membedakan, memisahkan yang satu dari yang lain, yang menurut  hukum dan yang bertentangan dengan hukum.

Kedua—Pejabat Negara. Tanpa kecuali, setiap orang yang memperoleh kedudukan tinggi mulai mempercayai kedudukannya. Dia menjadi arogan, sombong, angkuh.

Ketiga—Penipu berjubah sufi, Si Darvish. Hati masih hitam, wajah dibedaki. Jiwa masih kotor, badan tampak bersih.

Untuk lebih jelasnya: Sang Ahli Hukum mewakili “dualitas”. Pejabat Negara mewakili “arogansi”, kesombongan, keangkuhan. Sufi Palsu mewakili “kemunafikan”, ketidakjujuran, kepalsuan. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Bila ingin “kebun hidup” anda bebas dari dualitas, arogansi dan kemunafikan, anda harus bersiasat seperti Si Tukang Kebun dalam kisah ini. Yang harus diberantas pertama-tama adalah “kemunafikan”. Jujur dulu, be yourself. Jangan meniru orang. Jadilah diri sendiri. Pada tahap awal itu, dualitas masih akan tetap ada. Baik-buruk, surga-neraka, panas-dingin, Adam-Iblis—semuanya masih ada. Begitu pula dengan keangkuhan, kesombongan, arogansi masih tetap ada.

Karena itu, setelah berhasil mengusir “darvish palsu kemunafikan” dari dalam diri, jangan terlena. jangan duduk diam. Langkah berikutnya adalah mengusir  “arogansi”, Bung Kesombongan, Saudara Keangkuhan.

Terakhir, baru mengatasi dualitas baru mengusir “Si Ahli Hukum”. Mansur Al Hallaj sudah berhasil mengusir ahli hukum dari kebun hidupnya, maka berani mengatakan Ana all Haqq—Akulah Kebenaran. Begitu pula Siti Jenar dan Sarmad.

Tetapi ada juga yang hanya ingin meniru mereka. Belum mengusir kemunafikan, belum mengusir keangkuhan, sudah cepat-cepat  ingin melampaui dualitas. Jelas tidak bisa. Kemudian, kalau dia mengatakan Ana al Haqq — pernyataannya tidak berarti sama sekali, tidak berbobot, hampa.

Dilihat dari sisi mereka yang berhasil diusir oleh tukang kebun: United We stand, divided we fall! Bersatu, mereka kokoh,tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Terpecah-pecah mereka jatuh, hancur. Tiupan angin dengan sangat mudah bisa meruntuhkan mereka.

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s