Renungan Tantra Yoga: Bersama Sandal Sepatu Lepaskan Mind, Baru Masuk Tempat Olah-Diri

buku tantra yoga

Cover Buku Tantra Yoga

“Pelahan-lahan sedikit. Lagu ini harus diputar ulang. Tilopa harus menyanyikannya lagi……. Dengarkan dengan penuh simpati,

“Cut away involvement with your homeland and friends.” Lepaskan keterlibatanmu dengan rumah, keluarga dan sahabat..

“and meditate alone in a forest or mountain retreat;” Bermeditasilah seorang diri di dalam hutan atau di pegunungan;

“exist there in a state of non-meditation” Beradalah di sana dalam keadaan non-meditasi.

“and attaining no-attainment, you attain Mahamudra.” Dengan mencapai yang tak tercapai, engkau mencapai Mahamudra….. Mahamudra ayat 18 (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

 

“Tilopa tidak menyuruh anda untuk melepaskan keluarga, teman dan rumah, tetapi untuk membebaskan diri dari ‘keterlibatan’. Untuk memotong tali ‘keterikatan’. Tradisi spiritual yang lain menyebutnya ‘kelekatan tak teratur’.

“Ada contoh hidup dari kelas kami…….

“Seusai acara, ‘P’ selalu mengeluh, ‘Pak, saya koq gelisah sekali….’ Ada sesi tanya jawab, dia tidak pemah bertanya. Acara sudah selesai, dia baru bertanya. Sengaja saya tidak menanggapinya.

“Minggu lalu, dia baru terbuka: ‘Pak, saya gelisah banget, setiap kali pacaran, putus melulu….’

“Nah, ‘P’ jelas-jelas tidak ‘bersimpati’ dan dengan Tilopa. Nyanyian Sang Guru tidak menyentuh jiwanya. Pikiran dia penuh dengan ‘pacar’.

“Tilopa sedang menyanyi apa, masa bodoh. Kita sibuk melayani pikiran. Jangankan menyanyi  bersama Sang Mursyid, mendengar pun belum sepenuh hati. Lalu, pencerahan apa yang kau harapkan?

“P” sangat jujur. Dia belum bersimpati dengan Tilopa dan dia mengungkapkan isi hatinya. Dia tidak malu-malu. Dia masih polos, lugu. Dan dia masih berkesempatan untuk catch-up. Untuk mengejar ketinggalannya. Saya mencintainya, saya mengharapkan dia cepat-cepat bersimpati dengan Tilopa. Itu sebabnya saya menyebut namanya. Biar dia sadar — dapat pacar atau ditinggal pacar, sami mawon. Sama saja. Dapat juga dalam mimpi. Ditinggal juga dalam mirnpi. Untuk apa mengurusi mimpi?

“Sekali lagi, ‘P’ sangar jujur. Banyak di antara kita tidak jujur. ‘P’ memikirkan pacar. Anda memikirkan pencerahan. Apa bedanya? Pikiran tetap pikiran. Tidak perlu diladeni. Bersimpatilah dengan Sang Guru. Dengarkan Tilopa dengan simpati!

Dia tidak mengajak anda untuk meninggalkan keluarga, rumah dan teman. Dia menasihati anda untuk melepaskan keterikatan, kelekatan yang tak semestinya. Dan bila anda berhasil melepaskannya, yang untung juga anda. Keterikatan merupakan beban. Lepas dari beban, anda menjadi ringan. Bila sampai saat ini anda tidak menganggap keterikatan sebagai beban, itu hanya karena anda sudah terbiasa hidup dengan beban. Anda belum punya pengalaman hidup tanpa beban.” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama)

 

“Datang untuk meditasi saja membawa bagasi se-‘rumah’. Baru pukul sembilan, mata sudah melihat jam dinding melulu. ‘Takut’ diomeli isteri. ‘Takut’ diomeli suami. Padahal tidak ada yang mengomeli anda. Mereka mungkin sibuk menonton ‘Tersanjung’ ,’Terpikat’ atau ‘Tersayang’……  Pokoknya yang ‘ter-ter….’ begitulah!.

“Di sesi pertemuan kami, saya menegur para peserta. “Handphone setipis apa pun bisa menjadi beban. Baru memejamkan mata, kriiing …. .. Matikan handphone, baru memasuki ruangan ini.

“Bersama sandal dan sepatu, lepaskan mind anda di luar — baru memasuki ruangan ini.

“Tilopa tak akan menegur sembarang orang. Begitu banyak peserta pada hari-hari lain – saya

pun tidak pernah menegur mereka. Tetapi, para Naropa harus ditegur ……

“……. Dan, kalian bukan sembarang peserta. Kalian para Naropa …… Bila kalian tidak ditegur, siapa lagi yang harus ditegur?”

“Sebelum menegur seorang Naropa, Tilopa akan melakukan fit and proper test. Studi kelayakan….. Anda harus menjalani tes terscbut, harus membuktikan kelayakan diri, baru ditegur Tilopa.

 

“Cut away involvement with your homeland and friends” Lepaskan keterlibatanmu dengan rumah, keluarga dan sahabat…..

“Berarti Iepaskan keterikatanmu….. Lepaskan keterlibatanmu yang berlebihan. Sepertinya engkau  yang memberi mereka makan. Sepertinya mereka tak akan hidup tanpamu. Betapa arogan, betapa  angkuh! Untuk mengurusi sebuah negara saja, kata para cendekiawan yang dibutuhkan sistem. Pelaku tidak penting. Bisa diganti sewaktu-waktu. Koq kita menganggap diri begitu penting? Seolah tidak ada yang bisa menggantikan kedudukan kita.

“Naropa, kamu berada di sini, tetapi masih memikirkan pekerjaan di Nalanda. Masih memikirkan isteri yang sudah kau tinggalkan. Pelepasanmu belum sampurna, Naropa. Kamu baru melepaskan fisik. Belum melepaskan pikiran. Belum melepaskan mind.”

“Bila mind belum terlepaskan, dia akan mencari fisik baru. Dan hal itu mudah sekali. Anda tidak sepandang, tidak sepaham dengan pasangan di rumah. Datang ke ashram, atau ke perkumpulan apa pun, bertemu dengan orang-orang yang sepandang, sepaham. Maka terciptalah ketertarikan baru. Untuk itukah anda datang ke ashram atau tempat perkumpulan anda?

Yang sudah punya isteri, ya sudah. Yang sudah punya suami, ya sudah. Tidak perlu mencari pacar baru. Pasangan yang tidak selaras eksis dalam mimpi. Pacaran pun anda lakukan dalam mimpi. Untuk apa memperpanjang mimpi? Bangunlah, bangkitlah. Mau tidur sampai kapan, mau bermimpi sampai kapan?

“Selama masih dalam tahap pacaran, reaksi kimia yang terjadi dalam badan memang luar biasa. Jantung berdebar lebih cepat. Wajah berseri-seri. Hati berbunga-bunga. Nanti kalau sudah kawin, setahun kemudian: Jangankan jantung, apa-apa juga nggak berdebar.

“Untuk ‘mendebarkan’ sesuatu anda butuh blue-movie. Anda butuh Viagra. Nggak bosan tidur? Nggak jenuh bermimpi? Bangunlah!” (Krishna, Anand. (2001). Tantra Yoga. Jakarta: Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

4 thoughts on “Renungan Tantra Yoga: Bersama Sandal Sepatu Lepaskan Mind, Baru Masuk Tempat Olah-Diri

  1. Terimakasih Pak Triwidodo…saya senang membaca Tantra Yoga, Naropa dan Tilopa… atas ijin dari Bapak Anand, saya pernah membuat pertunjukan teater dengan mengangkat cerita dari kisah Naropa dan tilopa…
    Salam Rahayu __/\__

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s