Renungan Jangka Jayabaya: Perempuan Hilang Malu, Laki-Laki Hilang Keperwiraan

buku jangka-jayabaya-500x500

Cover Buku Jangka jayabaya

Wong wadon ilang kawirangane, wong lanang ilang kaprawirane

Perempuan hilang malunya, laki-laki hilang keperwiraannya

“Rasa malu merupakan sifat perempuan di dalam diri manusia. Karena itu, bagi seseorang yang lahir sebagai perempuan, sifat itu menjadi kodratnya, sifat bawaannya. Bagi seseorang yang lahir sebagai lelaki, sifat itu masih berupa potensi yang harus dikembangkan; benih yang harus dipupuki.

“Sifat malu lahir dari kelembutan-keIembutan dalam diri manusia, kelembutan yang ada dalam diri setiap manusia. Sifat malu – bukan rasa takut—membudayakan manusia.

“Karena ‘takut’ – misalnya takut dihukum atau didenda – seorang penjahat bisa memberi kesan seolah dirinya sudah sadar. Bila peraturan-peraturan yang dibuat oleh negara atau diberlakukan oleh institusi agama hanya menimbulkan rasa takut, peraturan itu tidak akan berpengaruh rerhadap peningkatan kesadaran manusia. Masyarakat malah menjadi munafik.

“Hanyalah ‘rasa malu’ yang dapat menyadarkan manusia. Kemudian, seorang penjahat akan meninggalkan kejahatan untuk selamanya, karena sadar. Rasa malu membuatnya sadar, sekaligus lembut.

“Tanpa kelembutan Perempuan, dunia ini akan menjadi tempat yang sungguh tidak layak untuk dihuni. Budaya, seni, puisi, sastra, dan segala sesuatu yang indah di dalam dunia ini lahir dari kelembutan perempuan. Seorang pria pun lahir dari rahim seorang perempuan. Ciptaan: bagi saya bahkan Sang Pencipta, bersifat Feminin. Energi adalah Shakti, Feminin.

“Keperwiraan bersifat maskulin – itulah ke-‘jantan’-an seorang lelaki. Dan, kejantanan bukanlah janggut atau kumis. Kejantanan adalah ‘keberanian’ di dalam diri manusia. Keberanian yang Iahir dari kelembutan. Keberanian yang berubah menjadi semangat untuk menjalani hidup. Keberanian untuk menghadapi segala tantangan dengan senyuman. Keberanian yang sangat dinamis, tetapi tidak anarkis. Keberanian yang membangun tidak merusak.”

 

Akeh wong lanang ora duwe bojo, akeh wong wadon ora setya marang bojone

Banyak laki-laki tak mau beristri, perempuan tak setia pada suami

“Banyak laki-laki tidak mau beristri bukan karena sudah berhasil mengendalikan hawa nafsu, tetapi karena tidak mau Bertanggungjawab. ‘Lebih baik’ jajan di luar saja’” mereka pikir, ‘untuk apa memelihara sapi bila dapat membeli susu di supermarket?’ Bagi mareka istri dan sapi sama saja. Dua-duanya memenuhi kebutuhan biologis. Bagi mereka, istri dan pembantu sama saja; yang penting rumah bersih dan anak terawat.

“Bila urusannya memang itu saja, untuk apa kawin? Menambah beban saja… demikianlah logika kaum laki-laki.

“Dan, ‘logika lelaki’ ini tercium oleh perempuan. Jangan lupa seorang perempuan jauh lebih intuitif daripada pria. Maka, ia pun melupakan sumpah setianya, walau untuk seorang perempuan, mengingkari janji atau melupakan sumpah setia, bukanlah hal yang mudah. Ia baru melakukannya bila sudah betul-betul terpojokkan, bila ‘rasa’ di dalam dirinya sudah hampir mati. Ini yang membedakan seorang perempuan dari seorang laki-laki. Ia harus mati rasa untuk berbuat sesuatu yang melanggar keperempuanannya.

“Tidak demikian dengan pria. Ia hidup dalam dunia yang sangat logis; ‘rasa’ di dalam dirinya belum berkembang penuh seperti dalam diri seorang perempuan. Untuk berbuat sesuatu yang melanggar keperwiraannya, ia tidak harus mati rasa dulu. Ia dapat meIakukan kejahatan tanpa merasa bersalah sama sekali.

‘Banyak laki-laki tak mau beristri’  juga berarti ‘banyak orang hanya menggunakan logika, rasa terlupakan sama sekali.’

“Kemudian, ‘banyak perempuan ingkar pada suami’ juga dapat diartikan, ‘walau rasa berkembang, suara nurani pun terdengar jelas, orang tetap tidak bertindak sesuai dengan kata hati.’ Lain pikiran, Iain ucapan, lain perbuatan. Tidak ada keselarasan dalam diri manusia, maka ia pun tak mampu hidup selaras dengan alam.”

 

Akeh ibu padha ngedol anake, akeh wong wadon ngedol awake

Banyak ibu menjual anak, banyak perempuan menjual diri

Akeh wong ijol bebojo. Banyak orang tukar pasangan.

Wong wadon nunggang jaran, wong lanang linggih plangki

Perempuan menunggang kuda, laki-laki naik tandu

Randha seuang loro. Dua janda harga seuang (= 8.5 sen).

Prawan seaga lima, dhudha pincang laku sembilan uang

Lima perawan lima picis, duda pincang laku sembilan uang

“Manusia ‘jatuh’ karena ia membiarkan dirinya dinilai dengan uang. Ia jatuh karena ulahnya sendiri. Tak seorang pun dapat menjatuhkan dia, kecuali ia membiarkan dirinya jatuh.

“Bila saat ini manusia sudah menjadi ‘komoditas’, itu pun karena ulahnya sendiri. Tenaga Kerja kita yang pergi ke luar negeri untuk menjadi pembantu, buruh kasar dan supir, sungguh telah menjadi komoditas. Mereka membiarkan diri mereka ditangani sebagai komoditas oleh para calo berjas dan berdasi, berkantor pula. Kenapa? Karena mereka menjadikan uang sebagai tolok ukur bagi penilaian diri.” (Krishna, Anand. (2005). Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Seorang pembantu di ashram baru saja pulang dari Saudi dan berceritera banyak tentang pengalamannya selama di sana, tentang penderitaan serra pemerkosaan berulangkali yang dialaminya. Alhasil, ia juga pulang seorang anak berambut keriting. Ia sempat bekerja di ashram selama enam bulan…. Tiba-tiba, pada suatu hari ia minta izin untuk pulang ke kampung dengan alasan ‘urusan keluarga’. Dari kampung ia menelepon: ‘Maaf, saya tidak bisa ke Jakarta untuk bekerja, karena sudah dapat pekerjaan di Iuar negeri.’

“Di luar negeri, dan di Saudi lagi… ditanya, ‘apa yang terjadi, apa dia sudah lupa pengalaman yang Ialu?’ Ia menjawab dengan tenang, ‘Habis dapat uangnya banyak, ya korban-korban sedikit nggak apa juga.’

“Ia rela menderita, rela diperkosa, hanya karena uang. Orangtua, kakak dan adik di rumah juga tidak melarangnya. Mereka pun lebih membutuhkan uang daripada kehormatan saudara mereka.

“Oleh sekelompok masyarakat kita, Dinar, mata uang Saudi dianggap lebih halal karena sepenuhnya didukung dengan emas. Mata uang kita sendiri, Rupiah, di mata mereka barangkali tidak sehalal itu, tapi, bagaimana dengan cara memperolehnya? Adakah ‘cara mencari nafka’” itu ikut menentukan halal-haram? Atau barangkali ada dalil lain? Bahwasanya pembantu yang diperbudak itu bisa ditiduri?

“Jayabaya tidak bicara tentang masa silam. Ia bicara tentang masa kini. Ia berbicara dengan kamu dan aku. Ia berbicara dengan kita semua. Ia berbicara dengan bangsa Indonesia, ‘Janganlah kau membiarkan dirimu dinilai dengan uang.’

“Lebih baik makan bubur di negeri sendiri, daripada rnenjual diri di negeri orang. Wahai wanita Indonesia, janganlah membiarkan dirimu dimadu oleh kakek berusia 60 tahun, hanya karena tergiur oleh harta yang dimilikinya. Wahai pria Indonesia, janganlah membiarkan saudaramu, istrimu dan ibumu diperlakukan sebagai budak, ditiduri manusia-manusia biadab. Katakan ‘tidak’ pada perbudakan terselubung.

“Wahai pemerintah Indonesia, janganlah membiarkan rakyat Indonesia diperlakukan secara tidak manusiawi. Ciptakan lapangan kerja bagi mereka, sehingga tidak seorang pun anak bangsa perlu ‘mengemis’, mencari nafkah di luar negeri dengan menggadaikan jiwanya.

“Tenaga kerja Indonesia yang ‘terpaksa’ ke luar negeri untuk mengadu nasib membuktikan kegagalan kita, sebagai pemerintah, dalam hal penyediaan pekerjaan. Mari kita ‘meminjamkan’ tenaga ahli kita, bukan untuk mengadu nasib, tetapi untuk menyumbang terhadap pembangunan di sana.” (Krishna, Anand. (2005). Jangka Jayabaya, Saatnya Bertindak Tanpa Rasa Takut dan Meraih Kejayaan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s