Renungan Gibran: Lupa Keilahian Diri, Yang Kaya Semakin Rakus. Yang Mengejar Napsu Birahi Semakin Buas

buku kahlil gibran

Cover Buku Kahlil Gibran

“Yang takut mati, sesungguhnya hanya melihat satu sisi kepribadiannya saja. Yang ia rasakan hanyalah yang kasat mata—badan fisiknya, jasmaninya.

“Dengarkan pendapat Kahlil Gibran:

“lngat bahwa Keilahian, Kemuliaan adalah Kebenaran Sejati Manusia. Dan Keilahian ini tidak bisa diperjualbelikan; tidak bisa ditimbun sebagaimana mereka menimbun harta-benda. Yang kaya telah melupakan Keilahian dirinya, Kemuliaan dirinya dan mengikat diri dengan kekayaannya. Begitu pula dengan yang muda. Ia melepaskannya demi kenikmatan dan kesenangan sesaat.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Anda tidak bisa membeli ‘keilahian’ ataupun ‘kemuliaan’. Bahkan Anda tidak perlu membelinya, karena ‘keilahian’ itulah kebenaran diri Anda; karena ‘kemuliaan’ itulah jatidiri Anda.

“Tetapi tidak banyak orang yang akan mengatakan demikian. Tidak banyak orang yang akan setuju clengan Kahlil Gibran. Kebanyakan orang cenderung memvonis manusia, ‘Kamu berdosa. Hidup dalam dosa dan akan mati pula dengan dosa, kecuali…..’  Lalu ,ereka akan menawarkan jasa. Ada yang menawarkan Kristus. Ada yang menawarkan Muhammad. Ada yang menawarkan Buddha. Ada yang menawarkan Krishna. Mereka bilang, tidak ada ‘keselamatan’, tidak ada ‘pembebasan’ dari dosa, kecuali Anda menerima salah satu dari sekian banyak pilihan.

“Ada pula yang agak lebih progresif, agak lebih liberal, ‘Terima yang mana saja, terserah! Tetapi kamu harus menerima salah satu di antaranya.’ Jadi setiap manusia harus memilih identitas agama yang jelas.

“Kahlil Gibran tidak membicarakan identitas agama. Ia membicarakan hakikat diri Anda yang sejati. Agama adalah ‘pemberian’ orangtua. Mereka memberikan identitas agama kepada Anda sejak anda masih bayi. Mungkin di antara Anda, lantas mencampakkan pemberian mereka setelah merasa menemukan ‘yang lebih’.

“Tetapi nyawa adalah pemberian Tuhan, Allah, God—atau yang saya sebut Keberadaan. Apakah Tuhan tidak membekali anda dengan ‘sesuatu’? Kalau orangtua saja berlomba untuk membekali anak-anaknya dengan sesuatu, bagaimana dengan Allah?

“Lalu kalau Allah, Tuhan harus membekali Anda dengan sesuatu, bekal apa pula yang dapat Ia berikan kepada Anda? Apa yang Ia miliki? Sebagaimana kebinatangan adalah sifat dasar binatang dan kemanusiaan adalah sifat dasar manusia, begitu pula ‘Keilahian’ adalah Sifat Dasar Allah. ‘Kemuliaan’ adalah Sifat Dasar ‘Ia Yang Maha Mulia’. Dan itu pula yang Ia berikan kepada Anda.

“Sebelum orangtua memberikan nama dan menempelkan ‘cap agama’, Tuhan sudah membekali Anda dengan ‘keilahian’, ‘kemuliaan’.

“Kita lupa! Kita tidak ingat lagi bahwa kita sudah memiliki ‘bekal dasar’ itu. Dan ‘bekal-bekal’ lain yang kita peroleh dari orangtua, dari sekolah, dari agama, dari masyarakat, sepertinya tidak memuaskan juga. Kita masih hampa, masih kosong. Masih mencari. Kita pikir, dengan menimbun harta-kekayaan, kita bisa membekali diri. Kita pikir, dengan harta tujuh keturunan kita bisa menjadi bahagia. Ternyata tidak. Kemudian, kita pikir dengan meraih kedudukan dan menjadi tenar, kita akan bahagia. Ternyata tidak juga.” (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Kita tidak pernah puas dengan bekal-bekal lain, karena alam bawah sadar selalu membandingkannya dengan bekal dasar kita, yaitu keilahian kita, kemuliaan kita. Lalu alam bawah sadar pula yang mendorong kita untuk mencari bekal-bekal lain. Semuanya ini terjadi dalam ‘ketidaksadaran’. Tanpa sepengetahuan kita, alam bawah sadar berjalan terus, bekerja terus.

“Yang kaya semakin rakus. Yang mengejar napsu birahi semakin buas. Apa sebabnya? Karena kita telah melupakan ‘keilahian diri’, ‘kemuliaan diri’.

“Itu sebabnya, saya berulang kali mengingatkan Anda bahwa tidak ada sesuatu yang perlu ditambahkan kepada Anda. Para guru yang menjanjikan ‘pembukaan Chakra’, para dukun pemasang susuk, semuanya sedang membohongi Anda. Atau lebih cepatnya, mereka sendiri tidak sadar akan kemuliaan diri mereka, akan keilahian diri mereka. Itu sebabnya mereka selalu mencari dan menyarankan ‘sandaran’. Lewat apa yang mereka sebut ‘pembukaan Chakra’, lewat hal-hal gaib yang mereka janjikan itu, apa yang dapat Anda peroleh? Kesenangan sesaat lagi. Kenikmatan sesaat lagi.

“Padahal Anda berhak aras sesuatu yang jauh lebih berharga, lebih panting dan Iebih berarti, lebih bermakna. Dan ‘sesuatu’ itu sudah ada dalam diri Anda. Justru ‘sesuatu’ itulah jatidiri Anda. Selama ini, hanya terlupakan. Itu saja. Setiap master, setiap guru hanya mengingatkan Anda akan keilahian Anda. Mereka yang mengklaim dapat ‘menumbuhkan’ keilahian dalam diri Anda, mereka yang mengklaim dapat ‘membuat Anda cerah, sedang menipu Anda. Jangan terjebak!” (Krishna, Anand. (1999). Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama). Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s