Renungan Masnawi: Para Wali adalah Wakil Tuhan yang Sadar Peran Mereka, Kita yang Tidak!

buku masnawi 2 diperbesar

Cover Buku Masnawi Dua

Seorang lelaki berusia lanjut mendatangi seorang tabib dan mengeluh, “Sepertinya aku ini menjadi pikun. Tolong otakku diperiksa.”… “Tidak perlu, Pak. Bagi orang seusia Bapak, hal itu lumrah; tak ada yang tidak wajar”, jawab Sang Tabib.

“Kalau begitu, bagaimana dengan mataku? Periksalah mataku, karena penglihatanku kurang tajam”, kata lelaki itu…. “Itu pun hal yang lumrah. Setiap orang berusia lanjut akan mengalaminya.”

“Tetapi pencernaanku juga tidak baik. Perutku sering sakit.”… “Itu pun karena usia lanjut.”

“Dan, nafasku sering sesak.”…. “Biasa juga—kalau sudah tua, badan pun berpenyakitan.”

Maka beranglah si tua, “Dari tadi engkau mengatakan ini biasa, itu biasa. Hanya kalimat itukah yang engkau pelajari selamaini? Tabib macam apa engkau ini?”… Sang Tabib tetap tenang, ”Aku dapat memahami kegusaranmu, Pak Tua. Itu pun karena usia tua. Bersama dengan melemahnya organ-organ tubuhmu, pengendalian diri juga melemah. Dan orang menjadi tidak sabar.”

Si Tua betul-betul marah…. Meledaklah dia. Sampai muntah-muntah.

Lain Si Tua dalam kisah ini. Lain pula seorang pir, seorang wali, seorang nabi. Mereka senantiasa muda. Walau badan sudah menunjukkan tanda-tanda lanjut usia, jiwa mereka tetap muda. Jangan tertipu oleh penampilan mereka. Di balik apa yang terlihat, tersembunyi tambang emas dan permata.

 

Bagi Rumi, seorang pir, seorang wali, seorang nabi adalah “Wakil Tuhan” di atas muka bumi. Tidak berarti Anda dan saya bukan “Wakil Tuhan”; Tidak berarti bahwa  Anda dun saya “Wakil Setan”. Tidak demikian. Yang membedakan kita dari mereka hanya satu—yaitu kesadaran.

Mereka sadar akan peran mereka dan berperan sesuai dengan kesadaran mereka. Kita tidak sadar. Kalaupun sadar; belum berperan sesuai dengan kesadaran. Kalaupun sudah berperan sesuai dengan kesadaran, masih belum sepenuh waktu. Masih setengah waktu. (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Tentang “Wakil Tuhan Puma Waktu” ini, Rumi mengatakan:

 

Surga dan Ncraka berada di dalam dirinya. Dia tidak terjangkau oleh pikiranmu. Apa yang terjangkau oleh pikiran hanyalah hal—hal yang bersifat sementara. Yang saat ini ada, saat berikutnya tidak ada. Tuhan tidak terjangkau oleh pikiran.

 

Anda masih bersikeras bahwa Tuhan lain, Manusia lain. Tuhan berada  “di ataaaaas” sana, jauh sekali; sedangkan manusia berada “di bawaaaaah” sini, bisanya hanya merengek-rengek. Kalau begitu, Anda tidak akan pernah bisa memahami Rumi.

Paling banter, Anda bisa memahami Al Ghazali. Itu pula sebabnya, sampai akhir tahun 80-an, Rumi hampir tidak dikenal di  Indonesia. Seorang Doktor dari kalangan IAIN mengakui hal tersebut dan bahkan menulisnya dalam disertasinya. Sementara Al Ghazali cukup populer.

Sebab lain kenapa Rumi tidak populer adalah karena sesungguhnya bangsa kita sudah familiar dengan ajaran sejenis. Satu dua abad yang lalu, kalau seorang pujangga seperti Ronggowarsito atau Mangkunagoro membaca Rumi, mereka akan mengangggukkan kepala mereka. Dan hanya itu saja. Karena, apa yang disampaikan oleh Rumi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat zaman itu.

Kalau sekarang Rumi menjadi populer, itu bukan karena dia luar biasa, tetapi karena selama ini Anda menutup terhadap ajaran luhur yang berasal dari budaya sendiri. Anda selalu bersandar pada ajaran yang berasal dari budaya asing.

Sekarang pun demikian. Rumi un Anda impor. Puisinya diterjemahkan mentah-mentah. Tulisan-tulisan orang Barat tentang dirinya juga disajikan begitu saja. Seerti membeli alat listrik dari luar negeri. Tegangan listrik di negeri orang lain, tegangan listrik di negeri kita lain, tetapi kita tidak ambil peduli. Main colok saja. Hasilnya, ya berantakan!

Tujuan saya menghadirkan Rumi di Indonesia lain! Saya ingin menggugah kesadaran dan kewarasan yang tersisa dalam diri manusia Indonesia, “Lihat, apa yang dia sampaikan itu pernah disampaikan oleh para pujangga kita sendiri. Ronggowarsito, Mangkunagoro, dan para penyusun Centini tidak kalah dari Rumi. Sadarlah!”

Melanjutkan wejangan Rumi:

Bangunan masjid dihormati, dijunjung tinggi, tetapi hati manusia di mana Tuhan bersemayam, dihancurkan. Sungguh tolol!

Bangunan (yang terbuat dari pasir dan batu) hanyalah simbolik. Masjid yang sesungguhnya adalah hati manusia, hati mereka yang sadar; hati para pir, para wali dan nabi. Itulah tempat ibadah sejati, yang terbuka bagi semua orang. Tuhan pun berada di sana.

 

Terpaksa saya harus mengutip terjemahan R.A. Nicholson, sehingga Anda melihat sendiri. Betapa lebih kerasnya bahasa Maulana:

Fools venerate the mosque and endeavour to destroy them that have the heart (in which God dwells).

That (mosque) is phenomenal, this (heart) is real, O asses! The (true) mosque is naught but the hearts of the (spiritual) captains.

The mosque that is the inward (consciousness) of the saints is the place of worship for all: God is there.

Apa yang saya terjemahkan sebagai “tolol” atau “bodoh” disebut “asses” oleh Rumi—Keledai. Dalam bahasa Parsi, Urdu, Hindi dan Sindhi, inilah ungkapan yang paling keras bagi orang yang bodoh, tolol, stupid, idiot, fool ……

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2000). Masnawi Buku Kedua Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s