Renungan #Gita: Mengendalikan Diri Sepanjang Hidup Tergoda Kembali Menjelang Ajal?

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 6:38

“Mahabaho (Krsna berlengan Perkasa), terlempar keluar dari jalur menuju kesempurnaan, apakah ia tidak mengalami nasib sama seperti gumpalan awan yang kehilangan arah? Apakah ia tidak kehilangan dua-duanya, kesempurnaan dalam Yoga dan kenikmatan duniawi?” Bhagavad Gita 6:38

 

“Konflik antara Kesadaran Jiwa dan Kesadaran Raga. Kesadaran Raga menginginkan kenikmatan indra, kenyamanan; dan Jiwa ingin menikmati kebebasannya sebagai penonton. Dua-duanya nikmat, namun jenis kenikmatannya beda.

“Sebagai penonton, kita bebas. Kita bisa menikmati pertunjukan hidup ini sebagai pertunjukan. Selesai pertunjukan, ya sudah, kita pulang ke rumah.

Namun sebagai pemeran, kita akan selalu was-was. ‘Permainan saya disukai orang Nggak? Diapresiasi nggak?’

“Sebagai pemeran kita tidak bebas. Seluruh identitas diri kita bergantung pada peran yang sedang kita mainkan.

“Para ‘Selebriti’ yang kita saksikan di TV hari ini belum tentu bertahan selama sepuluh tahun lagi. Silakan mengingat-ingat nama para pemain sinetron atau film 10-20 tahun yang lalu. Nama-nama mereka tenggelam bersama masa lalu. Kita juga tidak tahu apa profesi mereka sekarang.

“Ketika seorang pemain sinetron atau teater kehilangan perannya, atau audiens memilih wajah baru yang lebih muda, lebih segar untuk dipandang – maka ia pun seolah hilang bersama pamornya sebagai pemain.

“Ini adalah kehidupan materialistik yang menganggap materi-pamor, materi-apresiasi dari penonton, materi-ketenaran, dan tentunya materi-materi, yakni materi-fulus sebagai identitas diri, menjadi identitas diri.

“Ketika materi hilang, diri kita yang bergantung pada materi pun ikut hilang. Tapi, Arjuna belum melihatnya seperti itu. Ia masih melihat kenikmatan materi sebagai sesuatu yang dapat membahagiakan!

“Pertanyaan Arjuna adalah pertanyaan kita semua. Bedanya, kita jarang menanyakannya. Kalau belum bertemu dengan seorang Krsna – mau bertanya pun sama siapa?

 

“Pertanyaan Arjuna, adalah : ‘Taruhlah Krsna, saya melatih diri untuk mengendalikan pikiran, perasaan, pancaindra, segala-galanya. Saya sudah berusaha sekuat tenaga dan sepanjang usia untuk menarik diri dari kenikmatan indra. Saya sudah ‘mengharamkan semuanya demi kesadaran Jiwa.

“Tapi, menjelang ajal tiba, beberapa saat atau beberapa hari, beberapa minggu, beberapa bulan sebelum maut datang untuk menjemput – pikiranku menjadi liar kembali. Bagaimana jika saat itu aku mulai memikirkan kenikmatan indra?

“Bagaimana jika aku keluar jalur lagi, padahal garis finish sudah di depan mata? Bukankah aku merugi total? Sudah susah payah mengendalikan diri sepanjang hidup, lalu tergoda kembali menjelang ajal tiba – apa jadinya diriku?

“Apakah Jiwa mengalami nasib yang sama seperti awan yang belum cukup tebal untukmenyebabkan hujan – kemudian tercerai-berai, tercecer? Tidak di sini, tidak juga di sana. Tidak meraih kesempurnaan dalam Yoga, dan kenikmatan pun terlewatkan?” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

Bhagavad Gita 6:40

Sri Bhagavan (krsna Hyang Maha Berkah) bersabda: “Tiada kerugian bagi orang seperti itu, baik di dalam hidup ini maupun dalam kehidupan berikutnya. Seseorang yang berbuat baik, tiada mengalami sesuatu yang tidak baik.” Bhagavad Gita 6:40

 

“Dasar hukum segala hukum ialah hukum sebab-akibat. Hukum Alam. Jika kita berbuat baik, tidak mungkin mendapatkan hasil yang tidak baik.jika saat ini kita sedang mengalami suatu keadaan yang kita anggap “kurang baik” – maka kemungkinan besar hal itu merupakan hasil dari perbuatan kita di masa lalu, atau kita belum bisa melihat gambar yang seutuhnya.

“Di balik pengalaman yang terasa tidak baik itu, bisa saja tersembunyi kebaikan. Di atas segala-galanya, saat kita sedang mengalami sesuatu yang tidak baik, jangan lupa berbuat lebih banyak kebaikan, supaya masa depan kita bebas dari pengalaman-pengalaman yang menyengsarakan.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com

……….

Jika seseorang sudah bertindak untuk mencapai kesempurnaan dan ia mati sebelum mencapainya, maka Semesta akan membantunya dengan memfasilitasi “kelahiran ulang” dalam keluarha

Lanjutan penjelasan bisa dibaca pada Tautan:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/06/15/renungan-gita-surga-dan-neraka-merupakan-transit-point/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s