Renungan Diri: Jadilah Pekerja Keras di Ladang Kehidupan Milik Tuhan!

Ulasan Buku Wedhatama

buku wedhatama Petani Jesus

 

Ilustrasi Pekerja di Ladang Tuhan

“Lila lamun, kelangan nora gegetun; Trima yen ketaman; Sak serik sameng dumadi; Tri Iegawa nalangsa srah ing Bathara.”

“Pertama, Rela yang berarti tidak menyesal, apabila kehilangan sesuatu. Kedua, Menerima yang berarti tetap sabar, walaupun dicaci-maki. Ketiga, Penyerahan diri sepenuhnya pada Kehendak lllahi.”  Bait 43 Wedhatama, (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Apabila Anda menemukan sifat-sifat tersebut dalam seseorang, ketahuilah bahwa ia sudah memahami esensi agama. Ia sudah sadar. Ia sudah memperoleh pencerahan. Ia sudah menemukan jati-dirinya.

lstilah lila yang biasanya diterjemahkan sebagai ‘rela’, sebenarnya memilki makna yang jauh lebih dalam. Lila juga berarti ‘permainan’. Kerelaan hanya bisa terjadi, apabila kita menganggap dunia ini sebagai suatu permainan, suatu pertunjukan. Kehilangan dan keperolehan, suka dan duka, semuanya hanya terjadi di ‘permainan’ yang sedang kita mainkan. Keperolehan kita merupakan bagian pertunjukan, kehilangan pun terjadi dalam pertunjukan. Sewaktu lahir, kita tidak membawa sesuatu. Genggaman kita memang kuat sekali, tetapi tidak berisi apa pun. Kita datang dengan tangan kosong. Dan, pada saat ajal tiba, kita meninggalkan dunia ini dengan tangan kosong pula. Keberhasilan dan kegagalan, kemenangan dan kekalahan, suka dan duka, semuanya hanya terjadi di atas panggung sandiwara. Kita hanya pelaku saja. Hari ini kita yang sedang bermain, besok mungkin ada orang lain yang membawakan peranan kita. Apabila kita menyadari hal ini, dengan sendirinya kita akan jadi rela. Keterikatan dan rasa kepemilikan akan lenyap sendiri.

Sifat kedua adalah ‘Menerima’. Selama ini kita mengkritik orang jawa. Kira anggap konsep nrimo itu membuat mereka sangat pesimis. Kita mengejek mereka, apa pun yang terjadi mereka akan tetap katakan, ‘masih untung’. Sebenarnya, sikap ‘menerima’ ini justru membuat hidup menjadi dinamis. Menerima berarti menerima hidup ini seutuhnya. Menerima berarti menyadari sepenuhnya bahwa setiap ranting yang berbunga mawar, juga penuh dengan duuri. Menerima berarti memahami mekanisme hidup ini, memahami bahwa suka dan duka hanya merupakan dua sisi dari kepingan uang logam yang sama. Menerima betarti tidak mengeluh terus-menerus. Menerima berarti menerima tanggung jawab sepenuhnya, tidak lagi mencari kambing hitam untuk menutupi kesalahan kita. Menerima berarti tidak lagi mencari-cari pembenaran diri.

Apabila hidup ini menjadi tantangan, terimalah tantangan itu. Hadapilah! Apabila hidup ini berubah menjadi ranjang yang empuk dan enak ditiduri, terimalah. Kesiapan Anda, kesiagaan Anda, dituntut senantiasa. Jangan lalai. Jangan terlena. Selalu waspada, siap-siaga.” “Pertama, Rela yang berarti tidak menyesal, apabila kehilangan sesuatu. Kedua, Menerima yang berarti tetap sabar, walaupun dicaci-maki. Ketiga, Penyerahan diri sepenuhnya pada Kehendak lllahi.”  Bait 43 Wedhatama, (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku wedhatama

Cover Buku Wedhatama

Orang yang tidak dapat menerima kehidupan ini seutuhnya adalah orang yang lemah, pengecut. Setiap kali menghadapi masalah, ia akan melemparkan bola ke orang Iain. Ia akan selalu berupaya untuk menutupi kelemahannya. Orang yang tidakdapat menerima kelemahan dirinya tidak akan mengubah sikapnya. Ia akan tetap lemah. Mereka yang punya kedudukan, punya ketenaran, punya kekayaan, adalah orang-orang yang lemah. Sedikit dikritik, mereka tidak senang, mereka gusar. Mereka memperkarakan Anda dengan menggunakan begitu banyak dalil. Kasihanilah mereka. Mereka belum bisa menganggap sama cacian dan pujian. Mereka belum sadar akan mekanisme kehidupan ini. Mereka masih harus belajar banyak. Mereka patut dikasihani.

Sebaliknya, ia yang menerima kehidupan ini seutuhnya tidak akan menutupi kelemahannya. Ia tidak takut dikririk. Ia berani menghadapi konsekuensi dari tindakannya. Apabila tindakannya salah, ia tidak akan mencari kambing hitam. Dengan segala keberaniannya, ia akan menerima kesalahannya dan akan mohon maaf. Ia yang bersedia mohon maaf dan selanjutnya memperbaiki tindakan-tindakannya, adalah seorang pemberani. Ia yang menerima adalah seorang pahlawan.

Sifat ketiga adalah ‘Penyerahan diri sepenuhnya pada Kehendak Illahi’. Berkaryalah, bekerjalah, berusahalah sebatas kemampuan Anda. Tetapi ingatlah selalu bahwa Anda hanya seorang pekerja di ladang kehidupan ini. Pemiliknya Allah, Tuhan, Sang Hyang Widhi. Ia Maha Tahu. Ia tahu persis, apa yang Anda butuhkan. Ia akan menggaji Anda sesuai dengan kebutuhan Anda. Jangan menuntut. Tuntutan Anda hanya mencerminkan kebodohan Anda. Anda menuntut upah yang besar, gaji yang tinggi, lantas Anda menjadi orang kaya. Kemudian, Anda menjadi begitu sibuk dalam usaha Anda, sehingga keluarga tidak terurus. Putra-putri Anda mulai cari ketenangan lewat narkotika. Isteri Anda sibuk dengan arisan, dandan dan shopping. Itukah definisi Anda tentang kenikmatan hidup?

Para rohaniawan Anda yang menganjurkan agar Anda mohon rejeki dari Tuhan, sebenarnya belum meyakini Kemahatahuaan-Nya. Jangan minta. Jangan menuntut sesuatu. Anda belum tahu, apa yang diminta itu akan membahagiakan Anda atau tidak. Tradisi-tradisi Timur yang kuno selalu menganjurkan, ‘mintalah kebahagiaan bagi seluruh umat manusia, mintalah kesehatan bagi seluruh umat manusia. Mintalah ketenteraman dan ketenangan bagi semua orang. Bahkan bagi setiap makhluk. Demikian, Anda sendiri akan kebagian kebahagiaan, kesehatan, ketenteraman dan ketenangan itu.’

Apabila Anda renungkan, sebenarnya tiga sifat ini merupakan tiga djmensi kehidupan. Walaupun kedengarannya lain, sesungguhnya mereka tidak dapat dipisahkan. Ia yang rela, akan menerima kehidupan ini seutuhnya dan akan berserah diri sepenuhnya pada Kehendak Illahi. Ia yang menerima kehidupan ini seutuhnya akan selalu rela dan berserah diri sepenuhnya pada Kehendak  Illahi. Ia yang berserah diri sepenuhnya pada Kehendak Illahi akan selalu rela dan menerima kehidupan ini seutuhnya. Pilih salah satu yang rasanya lebih gampang untuk dilakoni. Yang lain akan mengikutinya.” (Krishna, Anand. (1999). Wedhatama Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s