Renungan Diri: Tobat dan Mohon Perlindungan-Nya Membebaskan Kejahatan Masa Lalu?

buku satcharita

Cover Buku Shri Sai Satcharita

“Maya adalah ilusi yang menciptakan dualitas panas-dingin, siang-malam, laki-perempuan, suka-duka, dan lain sebagainya. Sebab itu maya juga merupakan dasar penciptaan. Tanpa ilusi dualitas, tak akan terjadi penciptaan. Ciptaan tergantung pada dualitas.

“Maka, selama kita masih menjadi bagian dari ciptaan, pengaruh maya mustahil untuk dihindari. Maka, kita perlu menjaga kesadaran kita supaya kita terlalu terperangkap dalam permainan maya, permainan dualitas.

“Seorang Sadguru mengingatkan kita akan peran penting maya dalam mempertahankan ciptaan, sekaligus bahayanya, dan mengajarkan cara supaya kita tidak tenggelam dalam lautan maya, tapi bisa berenang dengan penuh kesadaran.

 

PERNYATAAN BABA TENTANG MAYA

“Baginda Baba jarang menggunakan kalimat-kalimat anjang, Bahasa Beliau sederhana, kata-kata yang Beliau gunakan terbatas, kendati penuh makna.

“Pada suatu hari Beliau bersabda : “Aku seorang fakir, tidak punya tanggungan maupun keterikatan. Aku tinggal di satu tempat, tidak kemana-mana. Ke-‘aku’an pun telah kunafikan, tetap saja maya masih menggoda-Ku.

“Para dewa, malaikat pun digoda maya, apalagi seorang fakir biasa seperti diri-Ku… Hanyalah mereka yang berserah diri kepada Tuhan dan memperoleh anugerah-Nya terbebaskan dari godaan maya.

“Ada kalanya Beliau merendahkan diri seperti itu. Ada kalanya Beliau mengingatkan kita akan Keilahian diri-Nya, dan Keilahian diri setiap makhluk.

 

ANUGERAH TUHAN

“Persis seperti Sri Krishna… Ketika berperan sebagai gembala sapi, Ia bersahabat dengan para gembala. Ia melakukan apa yang mereka lakukan. Ketika menjadi sais kereta Arjuna, Ia melayani sahabat-Nya. Namun, ketika dibutuhkan maka Ia pun menunjukkan wujud sebenar-Nya, wujud Hyang Meliputi sekaligus Melampaui alam semesta.

“Kepada seorang sahabat lain bernama Uddhava, Sri Krishna menjelaskan, “Para suci adalah wujud-Ku yang paling nyata.”

Sekarang, mari kita mendengarkan sabda Sadguru Baba.

“Mereka yang beruntung dan telah melampaui segala akibat dari perbuatan mereka, akhirnya menemukan Aku. Mereka memuja-Ku.

Ucapkan ‘Sai, Sai’ dengan hati yang tulus, dan Aku akan membantumu menyeberangi tujuh lautan. Mereka yang percaya meraih manfaat dari kepercayaan mereka sendiri.

Aku tidak membutuhkan pemujaan macam-macam. Tidak perlu menyediakan berbagai macam sesajen. Tidak perlu mempersembahkan sesuatu. Aku bersemayam dalam setiap hati yang penuh dengan ketulusan cinta.

“Apa yang Beliau sampaikan itu bukan sejadar kata-kata, tapi janji. Dan, Baginda, selalu menepati janji-Nya, sebagaimana akan kita baca dalam kisah-kisah berikut…. Dikutip dari (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

PENGALAMAN BHIMAJI PATIL

“Tahun 1909 – Bhimaji, seorang kerabat Chandokar datang ke Shirdi untuk mencari kesembuhan. Ia menderita Tubercolusis (TB, saat itu penyakit yang mematikan – Sai das).

“Sebelumnya, ia sudah berobat ke mana-mana, sudah mencoba pengobatan barat, timur, ramuan, dan segalanya. Hasilnya nihil. Ia tidak sembuh juga. Ia dibawa ke masjid dalam keadaan berbaring, kondisinya sudah lemah sekali.

“Setelah melihat dia, Baba mengatakan bahwa penyakit Bhimaji disebabkan oleh perbuatannya sendiri, sehingga ia mesti menderita sebagai akibat perbuatan itu. Beliau memberi kesan tak akan melakukan intervensi terhadap hukum sebab-akibat atau hukum karma.

“Mendengar penjelasan Baba, Bhimaji tak mamu membendung airmatanya. Sekalipun dalam keadaan lemah, ia tetap berusaha untuk duduk bersujud, “Baba, sejahat apa pun diriku pada masa lalu, sebejat apa pun perbuatanku – sekarang aku berserah diri keada-Mu. Aku yakin, hanyalah Engkau yang dapat membebaskan diriku dari penderitaan ini.’

(Catatan: Sri Krishna berjanji dalam Bhagavad Geeta, seorang pelaku kejahatan sepanjang usia pun, jika akhirnya bertobat dan memohon perlindungan kepadanya, maka ia akan membebaskannya dari segala akibat perbuatannya pada masa lalu, dan melindunginya – Sai das). (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

 

Kata-kata itu menggugah hati Baginda, setidaknya seperti itu yang kurasakan, dan Beliau bersabda: “Baiklah, jika kau betul-betul yakin dan bertobat, maka tiada lagi yang perlu kau khawatirkan, penderitaanmu sudah berakhir.

“Seberapapun penderitaan seseorang ; sedahsyat apapun penindasan yang dialaminya, dan karena alasan apa pun jua, jika ia bertobat dan datang ke masjid ini, maka sudah tepatlah langkahnya. Ia sudah melangkah menuju kebahagiaan.

“Fakir di sini sungguh murah hari. Ia menyembuhkan penyakit dan mengakhiri penderitaan mereka yang bertobat. Ia melindungi setiap orang yang datang dengan penuh keyakinan dan kasih.

“Keadaan Bhimaji sudah sedemikian parah, sehingga setia lima menit ia mengeluarkan darah dari mulutnya. Ajaib, selama berada di masjid, ia sudah tidak mengeluarkan darah lagi.

 

MUKJIZAT PENYEMBUHAN

“Baginda menyuruh Bhimaji untuk tinggal bersama seorang warga Shirdi yang agak berkecukupan. Rumahnya kecil, kurang bersih, dan tidak nyaman. Apalagi mengingat keadaan Bhimaji yang parah. Namun, perintah Baba adalah perintah, Baik Bhimaji, maupun warga Shirdi yang dimaksud – keduanya tidak mengeluh. Bagi mereka perintah Baginda adalah berkah.

“Ternyata Baginda memang telah merencanakan penyembuhan Bhimaji dengan cara itu. Selama di rumah warga tersebut, Baginda menyembuhkannya lewat dua kali mimpi. Ya, lewat mimpi.

“Dalam mimpi pertama, ia melihat dirinya sebagai anak kecil yang dihukum oleh guru di sekolah karena tidak hafal pelajaran “Syair Swami”.

“Dalam mimpinya yang kedua ia melihat dirinya disiksa oleh seorang yang menggelindingkan sebuah batu besar dan berat di atas dadanya. Saat itu, masih di dalam mimpi juga, ia merasa sakit sekali.

“Namun, begitu bangun tidur, terjadilah keajaiban mukjizat penyembuhan! Bhimaji sembuh. Jai Sai Ram – jayalah Sadguru Sai. Jayalah Sang Hyang Rama, jayalah Dia yang bersemayam di dalam diri setiap makhluk! Dikutip dari buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia)

Link: http://www.booksindonesia.com

 

“Untuk mengetahui Tafsir Mimi tersebut, silakan ikuti lanjutan Catatan berikutnya!”

Advertisements

One thought on “Renungan Diri: Tobat dan Mohon Perlindungan-Nya Membebaskan Kejahatan Masa Lalu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s