Renungan #Gita: Sepanjang Hidup, Menjelang Ajal Hanya Mikir Seks, Lahir Kembali sebagai Babi?

Kisah Indra yang Sarat Hikmah Kehidupan

buku babi

Ilustrasi Kisah Indra yang ingin menikmati indra

Bhagavad Gita 16:21

“Keinginan, amarah, dan keserakahan – inilah tiga pintu neraka, yang menyebabkan jatuhnya Jiwa. Sebab itu, hindarilah ketiga-tiganya.” Bhagavad Gita 16:21

“Naraka atau Neraka bukanlah suatu tempat di mana kita di-‘sate’. Itu terjadi di dunia benda, di mana pihak yang berkuasa hingga hari ini pun masih tetap melakukan praktek-praktek yang menjijikkan untuk menghabisi siapa saja. yang dianggapnya dapat merongrongi kekuasaannya. Tentunya pembakaran yang mereka lakukan saat ini sudah tidak selalu menggunakan api, kayu, ataupun oven. Pembakaran dapat dilakukan lewat black-campaign di media, fitnah, perkara esanan buatan dan sebagainya.

“NERAKA ADALAH SUATU KEADAAN saat Jiwa lupa akan hakikat dirinya. Dan sepenuhnya mengidentifikasikan diri dengan dunia benda. Neraka adalah keadaan ilusif di mana gugusan pikiran dan perasaan berkuasa, hawa nafsu berkuasa, dan Jiwa diperbudak olehnya.

“Neraka adalah keadaan saat Jiwa tidak percaya diri, tetapi memercayai kendaraan badan, wahana indra, kereta gugusan pikiran dan perasaan yang semuanya, sebenamya hanyalah sarana, alat pelengkap — bukan jati diri.

“KRSNA MENJELASKAN ALASAN ‘KEJATUHAN’ JIWA – Yaitu, karena keinginan, amarah, dan keserakahan. Sesungguhnya, ketiga hal ini adalah tritunggal — yang satu tidak bisa dipisahkan dari yang lain.”

“Keinginan Jiwa untuk mengalami sesuatu tidaklah menjatuhkan kesadarannya, selama ia menempatkan diri sebagai penonton. Menjadi penonton tidak berarti kita berdiam diri — tidak. Menjadi penonton adalah ‘sikap’, attitude. Kita bisa mengemudi Wahana badan, lengkap dengan indra, gugusan pikiran serta perasaan segala dengan penuh kesadaran bila wahana bukanlah diri kita. Dengan cara itu, walau sedang mengendarai wahana pilihan kita di jalan raya kehidupan, kita tetaplah sebagai penonton. Sebagai pelancong. Ya, berkesadaran pelancong bahwasanya, ‘Tempat ini bukanlah tempatku, aku berada di dunia ini sebagai pelancong.”

“KETIKA TERJADI PERUBAHAN ‘ATTITUDE’ – Dan kita menganggap dunia ini sebagai ‘tempat kita’, maka sudah pasti muncul ‘keinginan untuk memiliki’ ini dan itu. Inilah pintu neraka pertama.

Saya pernah membaca, suatu ketika Dewa Indra, Raja para Deva atau Dewa; Malaikat Pengendali Indra di dalam diri manusia – ber-‘keinginan’ untuk merasakan kenikmatan indra di dunia ini.

Keadaan ini memang lucu. Konon, Dewa Indra, yang habitatnya adalah Surga, turun ke dunia untuk mengalami kenikmatan indra. Sementara itu, manusia berlomba-lomba untuk menjadi penghuni surga.

Kembali pada Dewa Indra — ia mewujud sebagai babi. Kenapa babi? Menurut ‘pengakuan mereka’ yang pernah mengalami kehidupan sebagai babi — sesungguhnya kita semua pernah, hanya saja tidak mengingatnya Iagi — babi adalah penikmat indra yang luar biasa.

MAKAN, MINUM, NGESEKS, DAN TIDUR – Itulah pekerjaan babi seumur hidupnya. Konon kehidupan seks babi adalah yang paling aktif di antara hewan-hewan sejenis, bahkan melebihi kehidupan seks manusia. Jadi , pilihan Indra untuk ‘mengalami’ kehidupan babi memang sudah tepat — tidak salah.

Indra sepenuhnya menikmati pengalaman tersebut. Ia ‘memiliki’ seekor istri dan beberapa ekor anak. Makin hari, ia tenggelam dalam pengalamannya Jika ada babi lain yang memandang istrinya, ia pun cemburu, ‘marah’ —pintu neraka kedua! Ada anak babi lain merebut makanan atau mainan anaknya – kembali marah! Demikian, pintu neraka ketiga — keserakahan pun dimasukinya.

Api hawa nafsu yang sebelumnya masih kecil —makin membesar. Memang seperti itulah kehidupan seks  babi. Tidak ada menopause, tidak ada cerita Iemah syahwat — tidak perlu viagra.

Sesungguhnya, bukan Indra saja yang ‘terjebak’ dalam permainan itu. Kita semua pernah, dan masih bisa terjebak lagi.

JIKA SEPANJANG HIDUP, KITA MEMIKIRKAN SEKS SAJA – Dan jika itu pula yang menjadi pikiran kita yang terakhir sesaat sebelum kematian – maka kemungkinan besar kita ‘lahir kembali’ sebagai babi. Devolusi seperti itu kerap terjadi karena keinginan seks yang membara.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Selesaikanlah perkara birahi selagi masih hidup. Lampauilah nafsu birahi, lewatilah. Jangan pula memaksa diri untuk menghindarinya, jika belum bisa mengendalikan diri. Lewati, Iampaui dengan penuh kesadaran bila kenikrnatan indra tidak sama dengan kebahagiaan sejati. Lampaui hawa nafsu – seks — dengan kesadaran, bukan karena paksaan. Jika kita memaksa diri, maka kemungkinan besar…. babi!

Mereka yang menikmati babi guling, babi bantal, babi ranjang, atau hidangan babi lainnya – berhati-hatilah, daging yang sedang kita nikmati itu barangkali daging seekor babi yang sebelumnya adalah kawan kita, kerabat kita! Besok-besok, giliran mereka menyantap kita, jika kita pun menjadi babi karena urusan birahi.

KEMBALI PADA DEWA INDRA – Sedemikian terlibatnya dia dengan istri, keluarga, dan kandang dunianya, sehingga terjadi huru-hara di surga yang tidak lagi memiliki pemimpin.

Para dewa yang masih setia menginginkan Indra segera ‘balik’ ke surga. Ini simbolis sekali, sangat simbolis. Kesadaran di dalam diri kita selalu menginginkan kita kembali, balik pada kesadaran Jiwa yang hakiki.

Para dewa yang masih setia itu, menyimpulkan bahwa ‘babi’ Indra sangat terikat dengan anak-anaknya. Jika mereka mati, maka kemungkinan besar Indra akan tersadarkan! Maka, satu persatu anak-anak Indra di-‘terminasi’!

Indra memang sedih, patah-hati, tapi kemudian terhibur oleh percaya diri istrinya, ‘Hidup masih panjang, Kang. Ayo kita mulai lagi .. Main Iagi, mulai lagi, beranak-pinak Iagi!’

Para dewa membuat kesimpulan baru, ‘Ternyata istrinya itu yang mencelakakan raja kita.’

Booommmmm istri mati. Indra sedih dan mulai merenungkan makna kehidupan. Tapi, tidak lama kemudian datanglah kerabat menawarkan adiknya sebagai istri pengganti.

Para dewa yang menyaksikan hal itu menjadi bingung, ‘Jangan-jangan, permainan Indra pun makin seru! Bisnis babi berlanjut terus!’

“Jangan bingung, persoalannya bukanlah istri, anak, dan kandang. Persoalannya adalah ‘babi’ Indra sendiri. Habisi babi itu, dan Indra akan kembali!” Resi Narada menasihati.

Betul! Ketika ‘babi’ terbunuh, diakhiri riwayatnya, maka Indra pun langsung tersadarkan, ‘He, aku Iagi ngapain di kandang babi yang menjijikkan ini?’ Ia balik ke surga.

INDRA DALAM KJSAH INI ADALAH ANDA, saya, kita semua. Semestinya kita menjadi pengendali, sayangnya saat ini malah terkendali.

Dewa Indra ditakdirkan sebagai pengendali indra, namun ia Iupa akan perannya. Demikian pula dengan kita. Dan ketika itu terjadi, maka satu-satunya jalan keluar untuk mengembalikan ingatan kita adalah dengan cara menghancurkan gugusan pikiran dan perasaan. Mesti ada shock therapy.

Namun, tidak setiap orang dapat melakukan shock therapy. Pelakunya mestilah seorang dokter berkesadaran. Narada memenuhi syarat tersebut. Narada pernah juga mengalami ‘penyakit’ lupa ingatan seperti Indra. Ia pernah memiliki pengalaman yang mirip, maka ia tahu cara untuk menyembuhkan Indra.

“KILL THE MIND “- Biarlah gugusan pikiran dan perasaan mati, karena saat itulah terjadi kebangkitan kesadaran baru – bodhicitta – gugusan pikiran dan perasaan yang sudah menjalani daur-uIang total.

Hanyalah scorang Master, seorang Sadguru, Pemandu Rohani Sejati yang mampu memberi shock therapy seperti itu. Nalnun, untuk itu pun, sebelumnya mesti ada persiapan yang matang. Kelompok dewa yang gelisah dan menginginkan Indra untuk kembali menduduki jabatannya sebagai pengendali indra, penguasa surga — adalah suara kecil nurani kita sendiri.

Jika suara nurani itu terdengar, walau masih kecil, dan sangat halus, maka timbul kehendak yang kuat, bukan sekadar keinginan, untuk kembali ke asal. Saat itulah pemberian shock therapy oleh seorang Sadguru yang mahir menjadi efektif.

Dalam anekdot tentang Dewa Indra di atas, kematian anak dan istri adalah keadaan yang membuatnya bertanya tentang makna kehidupan, ‘Begini saja?’ Saat itu suara nurani, walau masih kecil dan tidak terdengar jelas, tapi sudah memenuhi syarat untuk pemberian shock therapy.

Saat itu, jika ‘babi’-Indra sekadar merasa sedih atau patah-hati atas kematian istrinya, kemudian langsung mencari pengganti, dan tidak bertanya tentang ‘makna kehidupan’ – maka kemungkinan besar suara nuraninya sudah tidak terdengar Iagi. Untung, tidak demikian yang terjadi dengan Indra. Nuraninya masih berfungsi. Narada memanfaatkan saat yang tepat itu. Jika terlewatkan, Indra akan memasuki siklus baru, dimana suara nuraninya akan makin halus, makin tidak terdengar.

Demikianlah ketiga pintu neraka — tritunggal keinginan, amarah dan keserakahan. Dari ketiganya ini muncullah sejumlah anak seperti; kebohongan, rasa iri, cemburu, cuek, benci, dan lainnya.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s