Renungan Diri: Kasmaran Hubungan Raga, Bhakti Hubungan Jiwa, Hubungan Sanubari

buku ultimate learning

Cover Buku The Ultimate Learning

“Ia tidak me-intimidasi kita, tidak menakut-nakuti kita supaya kita mengenang nama-Nya, atau selalu berhamba pada-Nya. Kita mengenang nama-Nya semata karena cinta, karena kasih. Kita berhamba pada-Nya, karena itulah ungkapan kasih yang paling tinggi. Inilah bhakti, inilah devosi, inilah pengabdian yang sesungguhnya.

 

Makna Bhakti

“Devotion adalah ungkapan kasih. Bhakti adalah ungkapan cinta sejati. Kasmaran tak dapat memahami arti kasih, cinta sejati. Mereka yang hanya mengenal bahasa kasmaran akan melihat segala sesuatu sebagai ungkapan kasmaran belaka.

“Mereka tidak dapat menembus lingkaran rendah kasmaran. Lalu, bagaimana melampauinya untuk memasuki lingkaran yang lebih besar, lingkaran kasih—Iingkaran cinta sejati?

“Kasmaran adalah hubungan raga. Bhakti adalah hubungan jiwa, hubungan sanubari. Tidak heran jika seseorang yang masih berkesadaran jasmani tak dapat memahami kesadaran ruhani.

“Orang seperti itu menganggap dirinya sudah cukup berbakti kepada Tuhan, padahal ia baru berhubungan dagang dengan-Nya: ‘Penuhilah keinginanku, berilah aku ini, dan itu, rnaka aku berdoa padamu.’ Ini bukan kasih, bukan cinta sejati, bukan Bhakti.

Sungguh luar biasa rahmat-Mu,

Luar biasa pula kemalanganku,

sehingga hati ini tak tertarik

untuk mengenang Kebesaran-Mu.

 

Hujan berkah membutuhkan cawan hati yang terbuka untuk menampungnya. ]ika cawan hati kita tertutup, atau rusak, bocor, kita tidak dapat menarnpung berkah-Nya. Kebocoran cawan hati disebabkan oleh keterikatan kita pada dunia benda, ketertarikan kita pada materi yang senantiasa berubah.

Kebocoran ini mesti diperbaiki. jika tidak, hujan berkah hanya akan membasahi kita dan tak lama kemudian kita menjadi kering kembali.

 

Cawan Hati

Cawan hati yang tidak bocor dan tidak tertutup mengubah sifat jiwa dari yang alot, kasar, dan keras menjadi lembut. Keterbukaan cawan hati dan kelembutan jiwa selalu seimbang. Ia yang hatinya tertutup, menjadi keras. Ia yang hatinya terbuka, menjadi lembut.

la yang cawan hatinya bocor hanya menjadi lembut untuk sesaat. Kemudian, ia berubah menjadi keras kembali.

Namun, apa sebenarnya arti keterbukaan?” Dikutip dari Buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Arti Keterbukaan

“Yang jelas bukanlah curhat-curhatan. Itu bukan keterbukaan, itu hanyalah luapan emosi. Bukankah itu yang telah kita lakukan selama ini? Gusti, aku menderita. Pangeran, aku susah. Tuhan, aku sengsara. Keluh kesah seperti itu tidak memmbuktikan keterbukaan.

“Keterbukaan adalah mengenang-Nya dalam segala keadaan. Keterbukaan adalah mengingat-Nya setiap saat. Dalam keadaan suka, maupun duka, senang, maupun susah, hati kita selalu terbuka bagi-Nya.

“Dalam keadaan duka, jika kita menjadi gelisah secara berlebihan, sesungguhnya kita telah menutup diri bagi berkah-Nya. Kegelisahan yang berlebihan membuktikan bahwa kita belurn sepenuhnya mempercayai Dia.

“Hati yang membenci dan mendendam adalah hati yang tertutup bagi Dia. Karena Dia adalah wujud kasih sayang, Dia adalah Hyang Mahamemaafkan.

“Keterbukaan adalah mengangkat diri dan membantu orang lain mengangkat dirinya. Karena setiap kita jatuh, Dia selalu mengangkat kita. Dia selalu membantu kita berdiri kembali.

“Orang yang menjatuhkan, orang yang menikmati kejatuhan orang lain adalah orang yang tertutup. Ia tak akan pernah mengenal kasih, cinta sejati, devosi, Bhakti. Ia tak pernah merasakan kehadiran Gusti Pangeran dalam hidupnya.

 

“The Name of the Lord – this alone is my wealth.

I do not tie it up to hide it,

nor do I sell it to make my living.

The Name is my crop, and the Name is my field.”

 

“Nama Tuhan — itu saja kekayaanku.

Tak perlu kusimpan, dan sembunyikan,

Tak kujual pula untuk menghidupi diri.

Nama (Tuhan) adalah lahan, pun panenku.”

(Kabir; Sri Guru Granth Sahib Pg. 1157)

Dikutip dari Buku (Krishna, Anand. (2010). The Ultimate Learning Pembelajaran Untuk Berkesadaran. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s