Renungan #Gita: Cara Para Introvert dan Para Extrovert Menemukan Jati-Dirinya

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Bhagavad Gita 6:3

“Seseorang yang berkecenderungan sebagai muni atau petapa, lebih banyak berdiam diri — dapat mencapai kesempurnaan dalam Yoga dengan cara berkarya tanpa pamrih. Demikian pula dengan mereka yang sudah mendalami Yoga, kesempurnaan atau kemuliaan dapat dicapai lewat pembebasan diri dari keinginan-keinginan duniawi.” Bhagavad Gita 6:3

 

“Ayat ini menjelaskan ‘jenis’ manusia berdasarkan kecenderungan atau orientasinya. Mereka yang beronentasi ke dalam diri — introvert — biasanya menjadi petapa. Mereka lebih menyukai keheningan. Tentunya, jika seorang introvert itu sedang berupaya untuk menemukan jati-dirinya.

“JIKA SEORANG INTROVERT tidak berada dalam posisi itu — tidak ‘sedang’ mencari jati-diri — maka, ia menjadi pendiam, kurang bergaul, susah menjalin kornunikasi, sehingga sudah pasti gagal dalam keseharian hidupnya. Satu-satunya profesi yang cocok bagi dirinya adalah sebagai filsuf, pemikir, saintis atau ilmuwan – yang juga merupakan bagian dari filsafat — di mana mereka tidak perlu banyak berhubungan dengan dunia luar.

“JENIS” KEDUA ADALAH MANUSIA EXTROVERT — Berorientasi ke luar-diri. Mayoritas berada dalam kelompok ini.

“Dari sudut pandang spiritual, umumnya jenis pertama adalah penganut paham Samkhya, dan lebih cocok menjadi Samnyasi atau Muni — petapa yang lebih banyak berdiarn diri.

“Dan, jenis kedua lebih cocok dengan ajaran Yoga — tetap berada di tengah kegaduhan dunia, namun bergaya hidup sebagai Yogi.

“Krsna menjelaskan bila:

“ITU SAJA TIDAK CUKUP. Bagi seorang Muni atau Samnyasi, menarik diri dari keramaian dunia sama tidak lengkapnya, sebagaimana bagi seorang Yogi yang sekadar melakukan latihan-latihan Yoga —tanpa bergaya hidup sebagai Yogi dan tanpa menghayati tujuan yoga.

“Seorang Samnyasi atau Muni mesti tetap berkarya — berkarya tanpa pamrih — sehingga ia menjadi Muni-Yogi, Samnyasi-Yogi, Samkhya Yogi. Sifat introvert tidak boleh menjadi kendala baginya untuk melayani sesama tanpa pamrih.

“Pun demikian dengan para Yogi — latihan Yoga dan bergaya hidup seperti Yogi saja tidaklah cukup. Mereka mesti memeriksa diri — apakah masih memiliki keinginan-keinginan duniawi? Apakah masih mengejar dunia benda? Apakah masih berambisi untuk membangun bisnis Yoga dengan cara ‘menyesuaikan’ Yoga dengan permintaan pasar, termasuk mem-bonsai-nya, untuk menjaga supaya tidak diberi label haram?” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

 

“YOGA TIDAK TERPENGARUH OLEH LABEL HARAM ATAU HALAL – Adalah orang yang sedang ‘menjual Yoga’ demi keuntungan materi, yang kena dampaknya. Padahal, sesungguhnya label haram bagi Yoga bisa menjadi sebuah berkah. Yoga akan dibersihkan dari elemen-elemen non-Yoga yang saat ini sudah melekat pada dirinya. Mereka yang betul-betul ‘butuh’ dan ‘tertarik’ dengan gaya hidup Yoga — percayalah, tidak akan pernah terkecoh oleh label pemberian kelompok-kelompok tertentu. Mereka akan tetap mencarinya, mendalaminya, dan melakoninya. Seorang Yogi yang seperti itulah, menurut Krsna patut disebut Samkhya-Karma-Yogi, Yogi-Muni atau Yogi-Samnyasi— two-in-one!” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma) Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s