Renungan Diri: Seperti Terbangnya Burung, Berenangnya Ikan, Spiritualitas Tumbuh Liar Tak Berpola

buku kidung agung

Cover Buku Kidung Agung

Tuhan adalah irama lagu ini. Bila kita membacanya sebagai prosa, kita tak akan menemui Tuhan di dalamnya. Bila kita melagukannya, atau setidaknya membacanya sebagai syair, sebagai puisi, maka irama Ilahi, Kehadiran Allah unakan terasa jelas merasuk ke dalam sumsum.

Si Jelita:

“Seperti pohon apel di tengah pohon-pohon di hutan, begitulah kekasihku di antara kaum pria. Aku senang bernaung di bawahnya; buah-buahnya manis rasanya.” Kidung Agung Salomo bait 3 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

 

“Seperti pohon apel yang tumbuh di hutan pula …. .. seperti itulah kekasihku.” Pertumbuhan spiritualitas dalam diri manusia tidak mengikuti pola tertentu. Ia bertumbuh liar. “Seperti terbangnya burung,” kata para resi zaman dahulu, “atau berenangnya ikan,” mereka mencari jalan sendiri. Seorang Guru hanya menumbuhkan kepercayaan diri kita, supaya kita berani terbang atau berenang sendiri.

Barangkali untuk bertemu dengan Sang Gembala, kita masih mengikuti pola tertentu. Anda harus memiliki alamatnya, dan mengikuti petunjuk dalam peta untuk rnenemukan rumahnya. Atau, justru dialah yang menemukan kita, dan barangkali dia pun mengikuti pola tertentu untuk menemukan kita. Tetapi, setelah pertemuan itu “terjadi”, segala macam pola berakhir. Ia mengajak kita terbang bersamanya.

 

Si Jelita sungguh menikmati kebersamaan dengan Sang Gcmbala, bahkan katanya “Aku senang bernaung di bawahnya.” Spiritualitas adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi jiwa dan raga. Sesuatu yang dipaksakan bukanlah spiritualitas. Bila kita terpaksa bertakwa kepada Tuhan, karena takut api neraka, atau demi kapling di surga, sesungguhnya kita belum bertakwa.

Bila kita beribadah karena merasa takut, karena diintimidasi dengan siksaan segala—maka kita belum senang beribadah. Bila kita bersujud karena hukumnya wajib bagi manusia untuk bersujud, kita belum senang bersujud…. Selama ini kita baru beragama karena kewajiban, karena keharusan, kita belum senang beragama.

 

“Seperti pohon apel di tengah pohon-pohon di hutan, begitulah kekasihku di antara kaum pria. Aku senang bernaung di bawahnya; buah-buahnya manis rasanya.” Si jelita senang bernaung di bawahnya bukan karena “buah-buahnya manis rasanya.” Dia bernaung di bawahnya karena “senang”, titik. Dia tidak berada di bawahnya karena ingin memetik buah. Adalah suatu kebetulan bahwa buahnya rnanis sekali!

Cinta seperti apakah yang ada di dalam dada kita terhadap junjungan kita? Kenapa Anda beragama Islam, atau Hindu, atau Buddha, atau Kong Hu Cu, atau entah apalah! Karena takut di ujung sana tidak ada yang menjemput Anda? Atau, karena Anda memang “senang”? (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Seperti pohon apel di tengah pohon-pohon di hutan, begitulah kekasihku di antara kaum pria….”

Sang Kekasih berada di tengah hutan, di tengah belukar dunia ini, di tengah keramaian. Ia tidak berada dalam gua. Hamzah Fansuri berkata, “ternyata kujumpai Dia di dalam rumahku.” Ya, di dalam rumah yang penuh kegaduhan; di dalam rumah yang penuh konflik dan ketidakaturan.

Jumpailah Dia di dalam hati yang sedang bergejolak. Jumpailah Dia di tengah kekacauan pikiran. Jumpai Dia di tengah keributan, keraguan, dan kebimbangan.

 

“Seperti pohon apel di tengah pohon-pohon di hutan….”—di tengah keliaran diri itulah kita akan menjumpai-Nya. Ia berada di dalam hutan belukar diri kita.

Jangan mencari Dia dalam ketenangan dan kedamaian. Susah mencari-Nya di sana, karena Tenang itulah Dia; Damai itulah Dia. Latar belakang kegaduhan dibutuhkan sehingga Tenang menjadi nyata; sehingga Damai tampak jelas. Demi kenyataan dan kejelasan itu kegaduhan dibutuhkan. Bukan “demi kenyataan dan demi kejelasan, karena keduanya tidak membutuhkan apa-apa…. tetapi, demi kenyataan dan kejelasan yang dapat kita lihat, sentuh, dan rasakan.

Sejak terjadi Big-Bang, alam semesta ini dalam keadaan kacau, kendati kekacauannya sangat teratur. lnilah paradoksnya. Dunia kita kacau, manusia saling membunuh, tetapi alam tidak terpengaruh. Segalanya berjalan sesuai dengan hukumnya.

 

“Seperti pohon apel di tengah pohon-pohon di hutan, begitulah kekasihku di antara kaum pria. Aku senang bernaung di bawahnya; buah-buahnya manis rasanya.”—Ibarat buah apel yang tumbuh di tengah hutan, kesadaran manusia pun tumbuh di tengah pikirannya yang liar, di tengah mind yang selama ini tidak pernah berhenti berpikir.

Si jelita dari Syulam sudah pernah mencicipi manisnya buah kesadaran, maka ia tidak tergoda oleh buah pikiran yang lain. (Krishna, Anand. (2006). Kidung Agung Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s