Renungan Zen: Meneriakkan Nama-Nya Ribuan Kali Tak Membantu, Harus Mengalami-Nya!

buku zen 8 keheningan

Ilustrasi Keheningan

“Ada yang menghadap Sang Buddha. Ia adalah seorang cendekiawan, dan seorang cendekiawan cenderung arogan. Ia ingin menunjukkan kepandaiannya. Sebelum menghadap seorang Buddha, apabila Anda tidak melepaskan arogansi diri, tindakan Anda tidak akan bermanfaat sama sekali. Arogansi dan ego membuat diri Anda tertutup. Buddha akan menghujani Anda dengan kurnia-Nya, Ia akan mengguyuri Anda dengan kasih-Nya, tetapi Anda tidak akan merasakan apa pun.

“Itulah sebab utama kegagalan para cendekiawan. Dengan segala macam ilmu yang mereka kuasai, mereka tidak akan pemah bisa mengenal seorang Buddha. Mereka akan selalu menolak seorang Kristus. Mereka tidak dapat memahami seorang Nabi. Seorang Buddha akan melewati Anda dan Anda tidak akan mengenal-Nya. Seorang Kristus berada begitu dekat, Anda melewati-Nya. Seorang Nabi berada di tengah Anda, tetap juga Anda tolak.

“Cendekiawan yang menghadap Sang Buddha mewakili arogansi kita, ego kita—mewakili para cendekiawan segala zaman. Ia pernah dengar bahwa pengalaman terakhir meditasi—kebahagiaan yang Anda peroleh dari pengalaman itu—tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Ia tidak pernah berupaya untuk memperoleh pengalaman pribadi. Mungkin ia pernah baca tencang pengalaman itu. Sekarang ia menginginkan jalan pintas: ‘Buddha jelaskan kepada saya sesuatu yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata.’

“Buddha tersenyum. Senyuman Buddha penuh dengan makna. Ia menepuk pundak sang penanya dan menjawab: ‘Untuk itu, pertanyaanmu seharusnya juga tidak menggunakan kata-kata.’

“Mungkin kita pernah baca beberapa buku tentang Zen, tentang Samadhi, tentang rasa bahagia yang merupakan hasil akhir meditasi yang tidak dapat dijelaskan lewat kata-kata. Lantas kita anggap sudah cukup dan kita menganggap sudah menguasai Zen. Anda boleh baca tentang ‘madu tawon Rengreng’, tetapi sebelum mencicipinya, Anda tidak akan pernah tahu rasa manisnya seperti apa. Memperoleh pengetahuan tentang ‘madu tawon Rengreng’ tidak berguna sama sekali, apabila Anda belum pernah mencicipinya.

“Kita boleh-boleh saja membanggakan diri sebagai ahli kitab, sebagai cendekiawan, sebagai teolog, tetapi tanpa adanya pengalaman pribadi dengan Tuhan, kita tidak akan pernah bisa memahami esensi agama. Saya ulangi: tanpa adanya pengalaman pribadi dengan Tuhan, bukan tentang Tuhan, tetapi dengan Tuhan. Meneriakkan Nama-Nya ribuan kali setiap hari tidak akan membantu. Kita harus menyelami-Nya, mengalami-Nya dalam kehidupan sehari-hari.

“Gambar ini seharusnya tidak dikomentari. Anda yang telah mengalami ‘rasa yang tak dapat dijelaskan itu’ sudah tidak membutuhkan penjelasan. Anda yang menutup diri terhadap ‘rasa’ tersebut tidak membutuhkan penjelasan juga. Tetapi ada satu lapisan lagi—di antara kedua lapisan masyarakat tadi, masih ada satu lapisan yang mungkin akan memperoleh sedikit manfaat dari penjelasan tentang ‘apa yang tidak dapat dijelaskan’.”

buku zen

Cover Buku Zen

“Ada cerita menarik tentang pencerahan Sang Buddha Gautama. Pencerahan bukan sesuatu yang luar biasa—sesungguhnya pencerahan merupakan hal yang paling ‘biasa’. Justru tidak adanya kesadaran dalam diri kita merupakan suatu hal yang luar biasa, sesuatu yang sangat ganjil. Apabila Anda menyadari hakikat diri, Anda akan kaget sendiri: ‘Ah—demikianlah adanya!’ Ternyata yang Anda kejar-kejar selama ini tidak pernah hilang. Anda harus mengejarnya ke mana-mana, sampai capai—sampai tidak ada yang dapat dikejar lagi—dan pada saat itu timbul pencerahan, ‘Ah!’

“Begitu pula dengan Sang Buddha Gautama: ‘Ah!’ Ia menjadi diam, tenang, tenteram, puas dengan apa adanya. Apa yang harus dikejar lagi? Apa yang harus dikerjakan lagi? Ia menjadi hening. Menurut legenda, dan legenda ini indah sekali, para malaikat, para dewa di kahyangan menjadi gelisah. Kenapa tidak? Pencerahan melahirkan seorang Buddha. Sebelum pencerahan itu, Ia hanya seorang pangeran bernama Siddhartha dari keluarga Gautama. Ia harus berbagi rasa dengan masyarakat luas. Apabila Ia menghanyutkan diri dalam Kasunyatan, maka dunia ini tidak akan diperkaya dengan kehadiran seorang Buddha. Sang Buddha harus berbicara, harus berbagi rasa, harus menularkan pencerahan-Nya. Buddha berarti ‘Ia yang telah Terjaga—Ia yang telah Sadar’. Kesadaran-Nya harus dimanfaatkan oleh orang banyak.

“Para malaikat dan para dewa ramai-ramai mendatangi ‘Ia yang telah Terjaga’, Sang Buddha. Mereka memaksa Buddha unruk mulai bicara, menyampaikan pengalaman-Nya demi kepentingan masyarakat luas. Sang Buddha menolak, ‘Apa yang harus saya sampaikan? Saya hanya menemukan diri sendiri, hanya menemukan Kasunyatan—itu saja. Tidak ada sesuatu yang harus saya sampaikan.’

“Para dewa tidak akan menerima penolakan Beliau. Mereka memaksa terus. Sang Buddha pun tetap pada pendirian-Nya: ‘Setiap makhluk dalam alam ini, bahkan setiap benda, sedang dalam perjalanan menuju ke-Buddha-an. Mereka yang sudah terjaga, dan tengah berjalan dengan penuh kesadaran, tidak membutuhkan kata-kata saya. Mereka yang masih tertidur pulas tidak akan mendengar saya. Apa gunanya saya bicara? Apa yang harus saya sampaikan? Kepada siapa harus saya sampaikan?’

“Rombongan para dewa dan para malaikat itu rupanya diketuai oleh Jiwa Mulia yang memiliki visi sangat luas: ‘Bhagavan, di antara kedua kelompok tadi, di antara mereka yang sudah terjaga dan mereka yang masih tertidur pulas, masih ada saru kelompok yang mungkin sudah terjaga, tetapi masih malas-malasan, masih enggan meninggalkan ranjang mereka. Berbicaralah demi mereka. Kata-katamu akan membangunkan mereka.’ (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“Dan Buddha tidak memiliki alasan lagi untuk tidak bicara. Seorang Buddha bicara untuk dan demi kelompok yang satu ini. Kelompok yang sudah terjaga, tetapi masih malas-malasan. Buddha akan membuat mereka gerah. Buddha akan membangunkan mereka. Itu sebabnya, seorang Buddha akan selalu dicaci, dimaki.

“Seorang anak sedang dibangunkan oleh ibunya. Sudah subuh dan ia harus bangun, harus mandi, harus ke sekolah. Anak ini masih malas-malasan. Seorang ibu tahu, betapa sulitnya membangunkan anak, setiap pagi. Tentu saja, ada juga anak-anak yang gampang terbangun.

“Dalam setiap kasus, memang ada kekecualian.

“Persis seperti seorang ibu, kadang seorang Buddha harus manis, harus merayu, tetapi kadang-kadang harus marah. Namun apa pun yang Ia lakukan, itu demi kebaikan kita, demi kebaikan putra-putri-nya.

“Kembali ke gambar kita yang kedelapan ini —kekosongan, keheningan, kasunyatan. Tetapi kekosongan yang satu ini bukan kehampaan. Kasunyatan juga merupakan kesempurnaan, kekosongan yang sangat berisi. Anda harus mengalaminya:” (Krishna, Anand. (1998). Zen Bagi Orang Modern. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link: http://www.booksindonesia.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s