Renungan Diri: Jika Kita Keluar dari Orbit Perlindungan Tuhan, Siapa yang Mesti Disalahkan?

buku Sai Baba bahasa Indonesia

Cover Buku Swami Sri Sathya Sai Baba

Swami Anand Krishna pernah bercerita tentang kisah Ramayana: Sita istri Rama telah berada di sisi Rama (bermakna Tuhan, Gusti Pangeran) selama belasan tahun dalam hutan pengasingan. Pada suatu saat, Sita tergoda dengan kijang kencana (hal yang menyangkut keduniawian) sehingga memohon Rama untuk menangkap kijang tersebut.

Karena mendengar teriakan dari kejauhan, dan Sita khawatir bahwa itu adalah suara Rama, maka Sita menyuruh Laksmana, adik Rama meninggalkan dirinya untuk mengejar Rama. Laksmana membuat garis melingkar di sekeliling tempat Sita agar Sita aman berada di dalam lingkaran orbit perlindungan, dan baru mengejar Rama. Laksmana, bermakna “perhatian yang tidak bercabang”, intelejensia dan kebijaksanaan sejati. Selanjutnya, Sita bisa diperdaya oleh Rahwana (bermakna ego), sehingga diculik dan berada dalam cengekeraman Rahwana.

Seseorang yang sudah lama berada di sisi Tuhan (Rama) tertarik dengan gemerlap keduniawian, sehingga mohon Tuhan memenuhi permintaannya. Laksmana, sang intelejensia (Laksmana) sudah memberi batasan orbit agar dia selamat. Akan tetapi ego (Rahwana) sangat lihai dan berhasil mengecoh orang tersebut untuk keluar orbit dan orang tersebut berhasil dikuasai. Perlu perjuangan keras untuk meleaskan diri dari ego, dan perlu devosi bhakta (Hanuman) untuk membebaskan diri dari ego.

Di bawah ini adalah penjelasan Swami Anand Krishna, Link: http://www.anandkrishna.org/

tentang “Orbit Perlindungan Manusia” dalam buku (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna) Link: http://www.booksindonesia.com

 

BETUL, KITA SEMUA BERADA DALAM PERLINDUNGANNYA

“Jika Tuhan memutuskan untuk tidak melindungi kita, maka siapa yang dapat melindungi kita? jika bukan Dia, siapa lagi? Jika matahari memutuskan untuk tidak terbit, atau bulan memutuskan untuk keluar dari orbitnya — apa yang akan terjadi? Kekacauan. Kehancuran.

“Apa yang terjadi jika bumi memutuskan untuk tidak berputar Iagi, ‘Malas ah, mau istirahat sebentar.’ Seluruh tata surya akan terpengaruh, dan bumi sendiri akan hancur-lebur. Segala sesuatu dalam alam ini tunduk pada perintah-Nya. Semua berjalan sesuai dengan kodrat-Nya… Keselarasan dengan Alam, dengan Hukum Alam, dengan Kehendak-Nya — inilah yang menjamin eksistensi matahari, bulan, bintang, termasuk planet bumi. .

 

ALAM SEMESTA BERADA DALAM PERLINDUNGANNYA, KARENA…

“Selaras dengan hukum-Nya, karena bekerja sesuai dengan kodrat mereka masing-masing.

“Bintang yang tidak selaras lagi, dan tidak bekerja sesuai dengan kodratnya, sebagai bintang – jatuh dari ketinggian. Ia sendiri hancur dan menyebabkan kehancuran di planet yang ditabrakinya.

Tuhan Maha Melindungi… Tetapi, jika kita keluar dari Orbit Perlindungan-Nya, maka siapa yang mesti disalahkan? Keluar dari orbit itu kita sudah pasti hancur-lebur. Salah siapa? (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

 

“Barangkali Anda bertanya, ‘Kenapa bisa keluar dari orbit-Nya?’ Pertanyaan yang kurang tepat… Bukan keluar dari Orbit-Nya. Sekian banyak tata surya, sekian banyak jagat raya… Semua adalah Orbit-Nya. Namun, setiap tata surya bisa eksis karena berkarya dalam ruang tertentu, setiap planet mesti berkarya dalam orbitnya, dalam wilayah kerjanya. Wilayah kerja kita adalah Orbit Perlindungan kita. Berada dalam Orbit Perlindungan itulah kita eksis. Dan, keluar dari Orbit Perlindungan itu kita hancur lebur.

“Tuhan Maha Menyaksikan. Berada dalam Orbit Perlindungan, dalam Wilayah Kerja kita sendiri – kita eksis. Berada di Iuar wilayah itu kita hancur lebur. Kendati demikian, sesungguhnya hancur bagaimana? Melebur ke mana? Melebur dalam apa? Melebur dengan apa?

 

HANCUR LEBUR PUN KITA TETAP BERADA DI DALAM TUHAN

“Kita tetap berada dalam Orbit-Nya, kendati dalam bentuk debu, atau dalam bentuk lain… Entah! jika kita mau berfilsafat tentang hal ini, kita tidak akan mencapai kesimpulan apa pun. Perdebatan seseru apa pun tidak dapat mengungkapkan misteri-Nya. Lalu, untuk apa berdebat?

“Untuk menjalani hidup ini, kita perlu ‘jalan’ untuk di-‘jaIani’. Untuk berkarya dalam hidup ini, kita perlu ‘ruang kerja’ tempat kita bisa ‘berkarya’. Untuk menghadapi berbagai macam tantangan, kita perlu semangat. Dan, supaya tidak celaka, kita butuh perlindungan. Berada di tengah hutan belukar, dan diserang oleh binatang buas — Anda perlu memberi perlawanan atau mati konyol. Saat itu Anda perlu otot, dan barangkali senapan. Tidak bisa berfilsafat.

“Kita tidak bisa menjalani hidup dengan berfilsafat-ria. Marilah kita menundukkan ego, dan berlindung pada Ia Hyang Berada dalam diri kita sebagai semangat hidup, sebagai kasih, sebagai energi murni tanpa ego, tanpa kesombongan, tanpa ke-‘aku’-an dan keangkuhan.

“Ego menciptakan orbit baru yang menimbulkan kesan seolah kita ini sebagai penguasa. Kemudian kesan itu pula yang menjadi sebab kehancuran kita. Ego menciptakan perasaan palsu seolah kita bisa berbuat apa saja. Dan, perasaan itu pula yang menghancurkan kita.” (Das, Sai. (2012). Swami Sri Sathya Sai Baba Sebuah Tafsir. Koperasi Global Anand Krishna)

Mengikuti Ego, berarti keluar dari jalur Orbit Keselamatan, dan kita akan menerima resiko, terkena Hukum Sebab-Akibat. Taubat, Metanoia, Kembali ke Jati Diri adalah kembali ke Orbit yang Selaras dengan Alam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s