Renungan I Ching: CH’IEN, Kerendahan Hati, Jangan Angkuh!

buku i ching

Cover Buku I Ching

“Berhadapan dengan cakrawala nan luas,

Apa artinya ketinggian gunung!

Seorang bijak menyadari hal itu.

Dan, karenanya tidak pernah angkuh.”

“Interpretasi: Bagaikan titik, keangkuhan mematikan kreativitas dalam dirimu. Jangan angkuh, jagalah kerendahan hatimu dan kau akan selalu jaya, selalu berhasil!

Dikutip dari: (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama) Link http://www.booksindonesia.com/

 

“Ia yang merasa dirinya sudah pintar, sudah hebat, akan berhenti berkembang. Apabila saya mengritik mereka yang mendirikan lembaga-lembaga kecendekiaan, saya memiliki alasan yang kuat sekali.

“Seorang cendekiawan rnendirikan tembok pemisah. la memisahkan dirinya dari masyarakat luas menjadi bagian dari kelompok elite. Perhatikan penampilan para cendekiawan yang sering muncul di layar teve. Dengarkan bahasa mereka. Seorang petani di Pekalongan pernah mengeluh, ‘Aku nggak ngerti apa yang dibicarakan.’ Para cendekiawan menjadi manusia eksklusif. Enak dipandang, tetapi tidak berguna bagi masyarakat.

“Dengan mendirikan sebuah Iembaga eksklusif, seorang cendekiawan sesungguhnya tengah memproyeksikan ego dan keangkuhannya. Ia belum bijakl

“Seorang bijak tidak akan mendirikan Iembaga-lembaga baru. Ia tidak akan mewakili salah satu lembaga. Ia akan melayani setiap orang, mencintai setiap orang, menghargai dan menghormati semua orang. Dan, untuk itu, Anda membutuhkan kerendahan hati yang luar biasa.

“Anda tetap menganut agama Islam, tetapi mencintai umat Hindu, Nasrani, Buddhis, sebagaimana Anda mencintai umat Islam. Anda tetap menganut agama Kristen, tetapi mencintai umat Islam, Hindu, Buddhis, sebagaimana anda mencintai umat Nasrani.

“Begitu pula dengan penganut agama Hindu dan Buddha. Kalau Anda belum sanggup, belum bisa, maka Anda belum bijak! Bahkan anda belum cukup manusiawi, karena Anda masih membedakan satu manusia dari manusia lain. Pandangan Anda masih sangat sempit. Bisa saja anda menyandang gelar ‘cendekiawan’ atau ‘ulama’ atau ‘pendeta’ atau ‘pastor’ atau ‘bhikshu’ atau ‘pemangku’, tetapi sesungguhnya Anda belum bijak.” (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

“la yang meragukan ‘kebijakan’ caleg beragama lain, hanya karena agamanya lain, sesungguhnya sedang memproyeksikan ‘ketidakbijaksanaan’ dirinya. Ia sadar bahwa dirinya tidak akan ‘bijak’ terhadap penganut agama-agama lain, sehingga ia mengira bahwa orang lain pun akan seperti dia. Kontroversi tentang agama para caleg lahir dari arogansi kelompok. Saya merasa diri saya hebat, karena saya mewakili kelompok mayoritas. Dan oleh karenanya, suara saya harus didengar. Cara berpikir demikian membuktikan bahwa saya belum cukup bijak!

“Semakin bijak Anda, semakin rendah hati Anda. Dan, ia yang bijak, ia yang rendah hati akan selalu Jaya, selalu berhasil!”  (Krishna, Anand. (2002). Menemukan Jati Diri I Ching Bagi Orang Moderen. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s