Renungan #Gita: Audisi Pemeran Utama atau Pihak Lawan dalam Skenario Panggung Kehidupan

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Dalam benak kita Pooja Sharma tentu mengalami seleksi yang ketat untuk memperoleh Peran Utama sebagai Draupadi dalam Serial Mahabharata yang pernah ditayangkan di ANTV. Mungkin ada berkah, grace dari Sang Sutradara, akan tetapi, artis cantik ini pasti memiliki kriteria tertentu sehingga bisa terpilih melakoni peran tersebut.

Di Jawa, diyakini bahwa untuk menjadi Raja atau Presiden, seseorang pasti telah memperoleh wahyu, grace dari Gusti Pangeran. Akan tetapi, bagaimana pun juga, dia pasti memiliki kriteria (dalam hal ini pengalaman jiwa) untuk menjalankan peran tersebut.

Diri kita masing-masing adalah juga pemeran utama dalam panggung sinetron kehidupan yang sedang kita jalani dan kita tulis sesuai pilihan kita sendiri. Kita punya rekan pemeran pendamping, dan pemeran lawan. Mungkin kita juga telah memperoleh grace, berkah, tetapi semestinya Jiwa kita telah mempunyai pengalaman untuk melakoni peran tersebut.

Bagaimana penjelasan Bhagavad Gita tentang cara mendapatkan peran Pandava atau Krsna, atau sekadar Kaurava dalam panggung kehiduan ini? Silakan ikuti penjelasan berikut:

Bhagavad Gita 11:29

“Sebagaimana laron terburu-buru memasuki nyala api untuk menemukan ajalnya; pun demikian seantero dunia dengan seluruh isinya sedang memasuki mulut-Mu dengan cepat, untuk berhancur-lebur tanpa bekas.” Bhagavad Gita 11:29

 

Penglihatan Arjuna bukanlah eksklusif ‘penglihatan’ saat perang saja. Sesungguhnya, keadaan kita yang tidak terlibat dalam perang pun kurang lebih sama. Perjuangan hidup ini sama dengan perang. Kita pun sedang menuju mulut-Nya untuk hancur, musnah dan tercipta ulang. Lalu,

APA BEDANYA? Apa beda antara mereka yang berpihak pada dharma — kebajikan – dan mereka yang berpihak pada adharma — kebatilan? Bukankah dua-duanya hancur juga? Bukankah dua-duanya akhirnya mati juga?

Ya, jika kita memperhatikan raga, maka dua-duanya hancur, punah. Dan, dua-duanya juga barangkali tercipta kembali untuk rnemasuki panggung dunia yang sama. Pertanyaannya, sebagai apa?

Setiap pengalaman kehidupan rnemperkaya Jiwa. Berdasarkan kekayaannya itu, ia mengambil peran berikut yang sesuai dengan wataknya, keahliannya.

Perhatikan para bintang layar lebar. Banyak di antara mereka yang memulai karier mereka sebagai peran pembantu. Bahkan, hingga akhir kariernya tetap sebagai peran pembantu. Kariernya seolah  berhenti di tempat, berhenti dalam kurun waktu dan peran tertentu.

Ada yang bermain hebat sebagai pemeran antagonis, villain; maka, sepanjang kariernya, ia selalu mendapatkan peran antagonis.

KITA MAU JADI APA? Puaskah kita sebagai Kaurava? Atau, kita ingin menjadi Pandava dan bersahabat dengan Krsna? Atau, malah ingin memainkan peran Krsna?

Jika mau menjadi Kaurava, maka silakan tetap berada dalam kubu adharma. Saat ini, mayoritas di antara kita berada dalam kubu tersebut.

Tapi, jika ingin mendapatkan peran Pandava atau Krsna, maka kita mesti pindah kubu. Kita mesti memperkaya diri dengan dharma, kebajikan.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Link: http://www.booksindonesia.com

KITA SEMUA IBARAT LARON yang sedang memasuki nyala api. Sepintas, kita sama, seolah sama. Tidak ada bedanya. Sepintas, rnemang demikian. Tapi, bertanyalah pada laron itu….

Memang, banyak di antara mereka yang rnemasuki api karena kebodohan mereka sendiri. Mau cari mati! Tapi, di antara laron-laron itu, ada juga beberapa yang akan rnenjawab pertanyaan kita dengan pertanyaan lain, ‘Apa? Cari mati? Apa maksudmu?’

Apa yang kita lihat sebagai api, apa yang kita sebut kematian — bagi mereka memiliki definisi lain.

API ITU ADALAH API CINTA – Mereka sedang memasuki Kolam Cinta. Mereka mabuk kepayang dalam Cinta. Cinta dengan nyala api, yang adalah pencerahan yang terjadi di dalam diri mereka sendiri. Mereka tidak mati. Mereka sedang menuju kehidupan abadi. Api pencerahan memurnikan Jiwa mereka dan mengantar mereka pada keabadian. –

Jadi, walau tampak sama — lain laron yang menuju kematian, dan lain pula laron yang menuju keabadian.

Kita semua lahir, hidup sebentar, dan mati. Itu pada level raga. Tidak ada seorang pun yang hidup untuk selamanya. Setidaknya, saya tidak pemah bertemu dengan seorang anak manusia yang tidak pernah mati. Atau, tidak akan mati.

Namun, lain dimensi raga, dan lain dimensi Jiwa. Ketika lsa bersabda, ‘Siapa pun yang mengenal-Ku, mendapatkan kehidupan abadi, maksud-Nya jelas bukan kehidupan abadi pada level raga. Tapi, pada level Jiwa. Dan, mengenal-‘Ku’ pun bukanlah rnengenal-Nya di level badan, tapi di level Jiwa – di  mana, Ku-Dia dan Ku-Anda, Ku-kita adalah satu dan sama.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s