Renungan Diri: Pikiran Selalu Pandang Bulu, Selalu Membedakan, Dharma Melampauinya

Tentang Kalachakra dan Dharmachakra

buku Bodhidharma

Cover Buku Bodhidharma

“Pikiran hidup dalam ‘waktu’. Ia membutuhkan waktu untuk mengekspresikan diri. Karena itu, ia pun harus tunduk pada Hukum Sebab-Akibat. Sementara itu, Dharma melampaui waktu. Ia bersifat sanatana atau kekal, abadi, Ianggeng, dan tidak terbatasi oleh waktu.

“Umumnya, kita berputar bersama Kalachakra—Roda Sang Kala, Waktu. Dialah pengendali hidup kita. Keberadaan kita tergantung padanya, pada waktu dan ruang. Karena itu, apa yang kita sebut dan pahami sebagai Tuhan, jangan-jangan Sang Kala. Kalau begitu, Tuhan ‘kita’ selama ini tak mampu melampaui Waktu. Ia menjadi Tuhan yang sangat kerdil: Tuhan bagi anak cucu A, Tuhan bagi umat B, Tuhan bagi pemeluk agama C. Tuhan kita selama ini amat sangat tergantung pada sejarah, bahkan pada manusia, pada para penerima wahyu. Tanpa mereka, kita tak akan pernah mengenal-Nya. Tuhan macam ini sesungguhnya produk pikiran kita. Barangkali produk ‘lapisan pikiran tertinggi’, dan tidak ada yang salah dengan itu. Boleh-boleh saja bila kita menciptakan Tuhan sesuai dengan pikiran serta pemahaman kita.

“Para bijak, mereka yang sudah memperoleh pencerahan dan melampaui Kalachakra, berputar bersama Dharmachakra, Yang MeIampaui Waktu, Wujud, Ruang, Pikiran, Perasaan dan segala bentuk Kegiatan. Seperti apa putaran mereka tak dapat dijelaskan, karena penjelasan hanya dapat diberikan dalam konteks waktu dan ruang. Pun mereka bebas dari segala macam dosa, tak tercemarkan, karena sampah waktu tak dapat menyentuh mereka.

“Berada dalam Kalachakra, setiap orang berputar demi dirinya. Hukum Karma, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi masih mengikat dirinya. Berada dalam Dharmachakra, manusia tidak lagi berputar demi dirinya. Hukum Karma sudah tidak mengikat dirinya. la berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri.

“Bumi kita berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. Untung, ia tidak berputar demi kita, demi manusia. Kita menganiayanya, kita melecehkannya, kita memperkosanya, tetapi ia tidak berhenti berputar. Bayangkan, apa yang terjadi bila ia mulai berpikir, ‘Umat rnanusia sudah keterlaluan, brengsek bener mereka. Untuk apa berputar bagi mereka? Berhenti sejenak ah; aku sudah celaka—biar mereka pun ikut celaka, tahu rasa!’ Tapi tidak, ia tidak pernah ‘berpikir’ demikian. Ia tetap bertindak sesuai dengan Dharma. La tidak pernah lalai. Kita merampoknya, mencemarinya, tetapi ia tetap rnemaafkan dan memberi….

“Matahari terbit dan terbenam demi Dharma. Di antara kita, ada yang memujanya, ada yang menganggap pemujaan seperti itu melanggar akidah agama—ia tidak terpengaruh. Ia tetap saja terbit dan terbenam seperti biasa. Hukum gravitasi bekerja sesuai dengan Dharma. Bayangkan dpa yang terjadi bila hukum tersebut ‘berhenti berlaku’ selama satu menit saja—terpental ke mama kita semua?! Begitu pula dengan hukum-hukum alam lainnya. Hukum Karma atau Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi pun bekerja sesuai dengan Dharma. Begitu pula seorang menteri. Ia bertindak sesuai dengan perintah raja, dan tidak dapat bertindak ‘tanpa kerajaan’. Kerajaan yang dimaksud dalam hal ini adalah ‘ruang dan waktu’. Hukum alam hanya berlaku dalam Kalachakra, dalam Roda Sang Kala, Waktu Agung. Tanpa kerajaan, hukum-hukum kerajaan ‘ada’, tapi ‘tidak dapat diberlakukan’. Dalam Dharmachakra, hukum-hukum alam ada tapi tidak berlaku.”  (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

 

“Dharma melampaui ‘aku’; oleh karenanya bebas dari segala bentuk pencemaran. Dharma melampaui ‘aku’ berarti melampaui ke-‘aku’-an, melampaui mind, melampaui pikiran. Karena itu, ia dapat bertindak tanpa memandang bulu. Ia dapat mengasihi tanpa embel-embel syarat dan batas. Bumi dan matahari bertindak sesuai dengan Dharma. Mereka tidak memiliki ‘aku’ yang dapat disakiti, disayat ataupun dilukai. Mereka tidak memiliki pikiran yang dapat diganggu, sehingga ketololan, kecerobohan kita, dan tindakan kita yang tidak bertanggung jawab tidak memengaruhi Dharma maupun kinerja mereka.

“Gunakan pikiran, maka Anda tidak dapat bertindak tanpa rnemandang bulu. Gunakan pikiran, maka Anda tidak dapat mengasihi tanpa syarat clan batas. Gunakan pikiran, maka Anda tidak dapat berkarya sesuai dengan Dharma! Pikiran selalu mernbingungkan. Pikiran menciptakan dualitas. Ia suka sekali menimbang, mengukur, dan memilah. Pikiran hidup dalam ‘waktu’. Ia membutuhkan waktu untuk mengekspresikan diri. Karena itu, ia pun harus tunduk pada Hukum Sebab-Akibat. Sementara itu, Dharma melampaui waktu. Ia bersifat sanatana atau kekal, abadi, Ianggeng, dan tidak terbatasi oleh waktu. Ia selalu ada… dulu ada, sekarang ada, dan sampai kapan pun tetap ada!

“Para bijak yang memahami serta meyakini hal ini sudah pasti melakoni Dharma dalam hidup sehari-hari…. Bila kita memahami sifat Dharma yang melampaui batas ruang dan waktu; dan memahami pula keterbatasan Kala, jelas kita akan memilih Dharma, sesuatuyang lebih tinggi nilainya. Saat itu, sesungguhnya kita menggunakan pikiran untuk melampaui pikiran. Kita menggunakan benda tajam untuk mencabut duri yang menusuk kaki kita. Setelah berhasil membebaskan diri dari duri yang menusuk, benda tajam pun harus kita lepaskan.”  (Krishna, Anand. (2005). Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Jakarta)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s