Merangkapkan Telapak Tangan Menghormati Tuhan dalam Diri Orang yang kita Temui

Gita Kehidupan Sepasang Pejalan Bagian 27

buku namaste Jacky Chen

Ilustrasi Merangkapkan kedua tangan dengan sepenuh hati

Apa pun yang terlihat selain Dia, hanyalah bayangan-Nya, yang berasal dari-Nya pula

Pada saat membaca buku (Das, Sai. (2010). Shri Sai Satcharita. Anand Krishna Global Co-Operation Indonesia), saya dan istri mulai paham mengapa kita sungkem kepada orangtua dan kakek-nenek kita. “Dalam budaya kita ada tradisi sungkem kepada orangtua, dan siapa saja yang kita pertuakan. Leluhur kita juga menghormati segala sesuatu di dalam alam ini, pepohonan bebatuan, bukit, gunung, kali, sungai, laut, semuanya.”

Kita memang bersujud hanya pada Tuhan. Akan tetapi walau manusia di-“cipta”-kan oleh Tuhan, keberadaan kita di dunia ini adalah lewat kedua orangtua kita yang membesarkan dan mendidik kita sampai bisa menjadi relatif bijak.

“Bukankah semuanya, apa pun, bila dirunut sebab-musabab sebelumnya secara terus menerus akan sampai pada Gusti Pangeran? Bila kita merunut silsilah orangtua sampai manusia pertama ataupun evolusi ala Darwin akhirnya akan sampai kepada Tuhan juga.

Bahkan sufi Shah Abdul Latif menyampaikan bahwa semua yang ada, yang kita lihat itu hanya bayangan-Nya yang keberadaannya sementara, selalu berubah, tidak abadi. Yang abadi dan selalu ada hanyalah Dia.

“Walaupun, nampaknya berbeda, nampaknya lain, semua itu sesungguhnya berasal dari satu……

“Yang satu, yang berbeda, semuanya berasal dari Allah….

“Hanya Dia-lah  Yang Ada, tidak ada sesuatu apa pun kecuali Allah…

“Jangan salah paham, aku bersumpah demi Allah, tak ada sesuatu apa pun kecuali Dia…

“Apa pun yang terlihat selain Dia, hanyalah bayangan-Nya, yang berasal dari-Nya pula…

Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bagi Sufi Shah Abdul Latif, dualitas sudah terlampaui.

Silakan baca ulang: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/05/13/melihat-wajah-gusti-di-mana-mana-vs-melihat-kotoran-kambing/

buku samudra sufi

Cover Buku Menyelami Samudra Kebijaksanaan Sufi

Melampaui dualitas dengan menerapkan laku namaskar (merangkapkan kedua belah tapak tangan di depan dada) sepenuh hati kepada orang yang kita jumpai

Di ashram, saya, istri dan teman-teman lain membiasakan menghormati orang yang kita jumpai dengan merangkapkan kedua belah tapak tangan dengan mengucapkan “anandam”. Saat menghormati sahabat yang me –“likes” Note kutipan saya di FB, kami juga berupaya menuliskan terima kasih sambil merangkapkan kedua belah tapak tangan yang kami ilustrasikan dengan “__/\__”. Kami berupaya menghormati sahabat yang telah membaca kutipan dari buku Bapak Anand Krishna. Dalam diri sahabat dan Bapak Anand Krishna bersemayam Gusti Pangeran yang sama.

Jujur, harus saya akui bahwa kutipan-kutipan dari Buku Bapak Anand Krishna telah menyentuh jiwa saya. Bukan hanya menyentuh pikiran saya yang kemampuan dan pengalamannya terbatas. Bahkan boleh dibilang kutipan-kutipan tersebut adalah kesadaran saya yang diungkapkan lewat Bapak Anand Krishna. Sekarang tergantung diri saya sendiri , memilih suara kesadaran atau mengikuti pikiran yang masih nyaman dengan keduniawian.

 “MAITRI, PERSAHABATAN; KARUNA, KASIH; DAN MUDITA, KECERIAAN adalah penawar segala konflik. Memang itulah solusinya. Tetapi, menerjemahkan solusi itu dalam keseharian hidup tidaklah mudah.

“Selama belasan, bahkan puluhan tahun, kita ber-“slogan” One Earth, One Sky, One Humankind—Satu Bumi, Sam Langit, Satu Umat Manusia. Syarat pertama Maitri atau Persahabatan sudah terpenuhi, setidaknya demikian anggapan kita. Tetapi saat menghadapi kenyataan di sekitar kita, di mana si sipit dan si belo dan si bule lebih berhasil dibandingkan dengan kita, maka terlupakanlah slogan yang telah kita ulangi selama bertahun-tahun ini. Muncul rasa iri, cemburu. Kenapa mereka lebih berhasil dibanding kita?

“Love is the Only Solution”—Cinta-Kasih adalah satu-satunya solusi. Syarat kedua Karuna pun rasanya terpenuhi. Tetapi, saat mempraktikkannya? Bagaimana menyikapi seseorang yang tidak memahami bahasa kasih? Apakah mesti mengasihi nyamuk demam berdarah atau anjing gila?

“Dengan bekal slogan “Be Joyful and Share Your Joy with Others”—Jadilah Ceria dan Bagilah Keceriaanmu dengan Siapa Saja—rasanya syarat ketiga tentang Mudita terpenuhi. Ya, terpenuhi sebatas slogan. Praktiknya? Apa bisa mum ceria dan berbagi keceriaan ketika orang yang dibagi keceriaan malah menyerang balik?

“SANGAT SULIT MEMPRAKTIKKAN KETIGA LAKU TERSEBUT tanpa terlebih dahulu membebaskan diri dari “pengaruh dualitas”—Upeksa. Untuk itu, kita mesti menembus kesadaran jasmani.

“Selama masih berkesadaran jasmani murni, dualitas tidak bisa dilampaui. Dualitas baru bisa dilampaui, baru bisa “mulai” dilampaui pada tataran energi. Energi yang ada di dalam diri saya, yang menghidupi, menggerakkan diri saya adalah sama dengan energi yang ada di dalam dan menggerakkan Anda. Sebatas ini dulu. Landasan energi ini penting. Tidak perlu membahas filsafat yang tinggi. Sederhana dulu.

“Dengan memahami hal ini, kita baru bisa mengapresiasi ungkapan Tat Tvam Asi, Itulah Kau; That Thou Art, That You Are! Dan itu pula Aku. That I am. Kemudian, kedua tangan kita, dengan sendirinya, akan mengambil sikap NAMASTE ATAU NAMASKARA MUDRA—Patanjali selalu digambarkan dalam sikap, dalam mudra seperti ini. Kedua tangan tercakup dalam Namaskara.

“Ketika kita sedang bersalaman dengan cara itu, boleh mengatakan Namaste, Namaskara, Salam, atau apa saja. Ungkapan di luar boleh apa saja, dalam bahasa mana saja. Tetapi dalam hati, kesadaran kita mestilah berbahasa satu dan sama, berbahasa kesadaran itu sendiri—Kesadaran Tat Tvam Asi. “Namaste, Namaskara, Salam; Tat Tvam Asi, Itulah Engkau—dan pada-Mu Hyang bersemayam di dalam setiap makhluk, kuucapkan salam-hormatku, salam-kasihku.”  (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Pendapat Bhagavad Gita tentang Tat Tvam Asi – Itulah kau, Kau juga Aku, Aku juga Kau

“Di pihak lain, Partha (Putra Prthu – sebutan lain bagi Kunti, Ibu Arjuna) para mahatma – mereka yang berjiwa mulia – yang selalu menyadari kemuliaan dirinya dan mengenali-Ku sebagai Sumber semua makhluk, dan segala-galanya; Tak Termusnahkan, dan Kekal Abadi; senantiasa memuja-Ku dengan seluruh kesadarannya berpusat pada-Ku.” Bhagavad Gita 9:13

Selama Jiwa Individu atau Jivatma tidak mengenal hakikat dirinya – ia beranggapan bila dirinya adalah badan, indra, pikiran, perasaan dan sebagainya. Kadang seseorang yang menyatakan, ‘Aku Jiwa, bukan badan’, dan sebagainya pun, masih tetap tidak menyadari hal itu. Ia baru berwacana saja.

Meditator adalah seorang yang menyadari hakikat dirinya. Ia telah menemukan kemuliaan dirinya. Ia melihat dirinya di mana-mana. Tat Tvam Asi – Itulah kau. Kau juga Aku. Aku juga Kau. Dalam kesadaran Jiwa, dan hanyalah dalam kesadaran Jiwa, kita baru bisa bersatu.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan baca ulang:

https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/07/03/renungan-gita-tidak-ada-dogma-yang-bisa-mempersatukan-umat-manusia-kecuali-kesadaran-jiwa/

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

 

Mari Latihan Praktek, Melampaui Dualitas dengan merangkapkan kedua telapak tangan sepenuh hati

“Jadi, jangan sekadar mencakup kedua tangan dan menunjukkan sikap Namaskara Mudra. Sikap ekstemal atau luaran seperti itu tidak cukup, belum cukup. Sambil mengambil sikap demikian, Kesadaran Tat Tvam Asi mesti timbul, mesti ditimbulkan. Juga dipupuki terus-menerus, ditumbuhkembangkan.

“PATANJALI SELALU MENITIKBERATKAN ABHYASA atau Laku, bahkan Praktik secara Intensif dan Repetitif. Laku Namaskara, atau Namaskara Sadhana ini adalah Laku Pertama sekaligus Utama yang mesti dilakoni setiap setiap sadhaka, setiap pelaku spiritual, setiap pejalan.

“Lepaskan kebiasan berjabat tangan; kebiasaan pipi kanan dan pipi kiri; kebiasaan-kebiasaan bersalaman yang hanya menitikberatkan interaksi fisik.

“Mulai sekarang, abhyasa—lakoni Namaskara Sadhana, Bersalaman dengan Cara Patanjali, sebagaimana telah dijelaskan di depan. Kemudian, sebagai hasil dari Namaskara Sadhana ini, praktik Upeksa menjadi mudah. Melakoni Maitri, Karuna, dan Mudita pun menjadi gampang.”  (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

2 thoughts on “Merangkapkan Telapak Tangan Menghormati Tuhan dalam Diri Orang yang kita Temui

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s