Renungan Sufi: Kisah Musa dan Gembala, dalam Cinta tidak ada Peraturan dan Formalitas

buku telaga pencerahan

Cover Buku Telaga Pencerahan

Pada suatu hari, Musa sedang beristirahat di bawah pohon yang rindang. Ia lelap dan ketiduran. Beberapa saat kemudian ia terjaga oleh suara nyanyian seorang gembala:

… di manakah engkau? Semalam aku menunggui kamu, aku berharap-harap, namun kau tak kunjung datang. Ke mana harus kupergi? Ke mana harus aku mencarimu? Oh Kekasihku, di manakah engkau? Oh Kekasihku, Oh Tu…

“Ah, gembala edan. Ia ditinggal olela kekasihnya. Musa berpikir demikian dan kembali memejamkan matanya.

“Oh Kekasihku, Oh Tuhanku, berikan aku kesempatan. Berikan aku kesempatan untuk membenahi tempat tidurmu. Berikan aku kesempatan untuk menyemir sepatumu. Oh Kekasihku, Oh Tuhanku, dengarkan ratapanku. Aku merindukanrnu. Sekali saja, Kekasihku, Tuhanku, Berikan aku kesempatan untuk menyuguhkan anggur yang terbaik bagimu, buah-buahan yang terpilih untukmu. Berikan aku kesempatan, Oh Tuhanku, Oh Kekasihku…

Kali ini Musa mendengarkan nyanyian gembala sampai habis. la marah, gusar. Betapa bodohnya gembala itu. Ia menghampirinya, “Masih waraskah kau. Apakah lagu itu kau tujukan kepada Tuhan?”

Gembala menyalami Musa dan menjawab, “Ya, Tuan, nyanyian tadi memang untuk Tuhan. Salahkah Hamba?”

Musa sudah tidak dapat menaban amarahnya, “Apakah kau bani lsrael, orang Israel?”

“Ya Tuan, hamba bani Israel.” Sang gembala sudah gemetaran.

“Kenalkah engkau, siapa aku ini?” Musa menanyakan kepadanya.

“Maaf Tuan, hamba orang bodoh. Hamba tidak mengenal Tuan”—sang gembala merunduk-runduk mohon maaf.

“Aku Musa.” Dengan segala arogansi, Musa memperkenalkan dirinya.

“Maaf Tuan, maafkan hamba yang bersalah. Maafkan hamba. Hamba orang bodoh, tidak terpelajar. Hamba tidak mengenal Tuan.” Sang gembala semakin gemetaran.

“Sudah, sudah—tetapi apa yang sedang kau nyanyikan tadi?” Wajah Musa masih merah.

“Maafkan hamba Tuan, nyanyian tadi merupakan ungkapan rasa rindu hamba terhadap Tuhan.”

Sang gembala sedikit memberanikan diri.

“Ungkapan rasa rindu, kau bilang? Dan kau akan rnenyemir sepatu-Nya, kau akan membenahi ranjang-Nya, kau akan melakukan semuanya itu—kau anggap Tuhan itu seperti manusia? Kau telah menghujat Tuhan. Kau gembala terkutuk, mohonlah pada-Nya agar kau dimaafkan.” Musa marah.

Sang gembala bingung. Ia masih belum mengerti apa kesalahannya. Apakab keinginan untuk menyemir sepatu Tuhan itu salah? Ia pasti tidur dan pasti punya ranjang; apakah membenahi ranjang-Nya itu salah? Ia lugu, polos, sederhana. Ia tidak mengerti maksud Musa. Tetapi bagaimana pun juga Musa adalah seorang Nabi. Ia pasti benar. Sang gembala berpikir demikian dan airmata pun mulai mengalir membasahi pipinya.

“Tuan, maafkan hamba. Hamba memang bodoh; tidak terpelajar. Hamba tidak tahu apa yang harus hamba lakukan, apa yang harus hamba ucapkan. Maafkan hamba.”

“Sudah, sudah pergilah dari sini.” Musa agak kasar.

 

Cerita ini sangat populer di kalangan Sufi. Mungkin dongeng, mungkin suatu cerita khayalan, tetapi sarat dengan makna:

Alkisah, gembala tadi begitu sedih, begitu bingung—ia meninggalkan hewannya dan memasuki hutan belukar.

Musa pun meninggalkan tempat itu dun kembali ke kemahnya. Aneh, biasanya ia dapat berdialog dengan Tuhan hampir setiap hari. Tetapi, setelah kejadian itu, tiba-tiba ia tidak  dapat berkomunikasi dengan  Tuhan lagi. Sekarang giliran Musa menjadi bingung, gelisah. Apa kesalahannya?

Setiap hari ia mengharap-harapkan dialog dengan Tuhan—yaug tidak pernah terjadi lagi. Ia menangisi nasibya. Ia belum sadar juga, kesalahan apa yang telah ia lakukan, sehingga Tuhan membisu.  Dikutip dari (Krishna, Anand. (1999). Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

 

Ia berdoa, “Tuhan, maafkan aku. Apa pun kesalahan yang telah kubuat, maafkan aku.”

Kata orang-orang Sufi, Tuhan yang Maba Pengasih dan Maha Penyayang akhirnya memaafkan Musa dan bersabda, “Musa kau telah menyakiti hati seorang kekasihku. Gembala yang kau marahi itu seorang kekasihku. Dalam kasih, dalam cinta, tidak ada peraturan, tidak ada formalitas. Siapakah engkau ini, sehingga dapat menetapkan peraturan-peraturan dalam cinta, dalam kasih? Biarkan dia berdoa dengan caranya. Itulah cara dia berdoa. Kenapa kau harus melarangnya?”

Musa sadar akan kesalahannya. Ia malu. La tidak dapat mengenali seorang kekasih Tuhan. Ia menyesali perbuatannya. Ia mohon maaf pada Tuhan.

“Jangan, jangan mohon maaf pada-Ku. Carilah gembala itu. Yang harus memaafkan kamu adalah dia, bukan Aku”—demikian sabda Allah.

Musa mencari gembala itu di mana-mana. Ia tidak menemukannya lagi. Ia sudah putus asa. Pada suatu hari, secara kebetulan ia tersesat dalam hutan dan menemukan gembala itu sedang duduk diam di tepi danau. Musa sangat gembira. Ia girang, “Temanku, aku Musa. Kenalkah engkau padaku? Ternyata dulu itu aku yang bersalah, Seharusnya aku tidak rnengoreksi kamu. Kau henar. Cintamu terhadap Tuhan luar hiasa. Mari kita menyanyikan bersama lagumu yang dahulu itu.”

“Lagu? Maafkan hamba. Tuan sudah terlambat. Tuan memang benar, Tuhan tidak dapat diperlakukan sebagai manusia. Sewaktu menyemir sepatu hamba yang sudah robek, hamba baru sadar bahwa Ia sebenarnya berada dalam diri hamba sendiri. Sekarang hamba sudah tidak merindukan-Nya lagi. Hamba telah menemukan Dia. Sekarang tidak ada lagu perpisahan lagi. Sekarang yang ada hanyalah perayaan, pertemuan. Maafkan hamba, Nabi besar tetapi Tuan sudah terlambat. Sekarang hamba tidak merindukan-Nya lagi. Hamba telah menemukan-Nya!”—demikian kata sang gembala.

Musa mulai menangis terisak-isak. Ia teringat lagi firman Allah yang didengarnya pertama kali:

“…tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu adalah tanah yang kudus.” (Keluaran 3:5)

Ia melepaskan sepatunya. Ia tahu bahwa tempat di mana ia berdiri adalah tanah yang kudus. Ia sedang berhadapan dengan Allah, dengan Tuhan. Dikutip dari (Krishna, Anand. (1999). Telaga Pencerahan Di Tengah Gurun Kehidupan. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s