Ki Ageng Suryamentaram, Bhagavad Gita, Yoga Sutra Patanjali, Mendamaikan Konflik dalam Diri

Gita Kehidupan Sepasang Pejalan Bagian 26

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Ki Ageng Suryomentaram

Salah satu Buku Tuntunan Kehidupan yang saya baca sebelum berkenalan dengan Anand Ashram adalah buku-buku Ki Ageng Suryomentaram. Ki Ageng Suryomentaram memulai ajarannya pada tahun 1931, dengan memberikan ceramah tentang “Wejangan Pokok Ilmu Bahagia”. Wejangan dibawakan secara gamblang, logis, mudah ditangkap dan dicerna oleh akal pikiran manusia. Beliau berbicara penuh nalar dan tidak berbicara secara spekulatif. Ki Ageng Suryomentaram adalah adik Sri Sultan Hamengkubuwono VIII. Beliau menanggalkan status kebangsawanannya dan hidup sebagai petani biasa di Desa Bringin, Salatiga.

Evolusi Kesadaran Manusia Pandangan Ki Ageng Suryomentaram

Ki Ageng menyebut kesadaran manusia yang menganggap dirinya sebagai tukang catat adalah kesadaran dimensi 1, hidup seperti tumbuh-tumbuhan, yang tidak dapat bereaksi (bergerak) terhadap tindakan luar yang dilakukan pada dirinya. Manusia mencatat hal-hal di luar diri melalui inderanya dan mencatat hal-hal didalam diri melalui rasanya.

Kesadaran dimensi 2, seperti hewan adalah kesadaran manusia yang menganggap catatan-catatan (kumpulan informasi) sebagai dirinya. Catatan-catatan yang jumlahnya jutaan ini hidup seperti halnya hewan, kalau diberi makan berupa perhatian akan semakin kuat, kalau tidak diberi perhatian akan mati. Hewan hanya bertindak alami, bereaksi fight or flight, berkelahi atau lari, kalau diri (catatan-catatan) nya diganggu.

Kesadaran dimensi 3, menganggap Kramadangsa (nama kita sendiri, ego) sebagai diri, yaitu ketika manusia menggunakan pikirannya untuk menanggapi atau bertindak terhadap hal yang berkaitan dengan dirinya.

Kesadaran dimensi 4, manusia yang menyadari bahwa dirinya bukan Kramadangsa tetapi Pengawas, Saksi dari setiap kejadian yang dialaminya.  Setelah menyadari bahwa diri ini bukannya kumpulan catatan-catatan dan pikiran, maka manusia menjadi sadar, bahwa dirinya bukan Kramadangsa tetapi Saksi, dan manusia tersebut mencapai derajat Manusia Universal yang merasa damai ketika bertemu manusia dan makhluk lainnya.

Demikian evolusi kesadaran diawali dengan kesadaran tumbuhan, hewan, manusia ber-ego sampai ke manusia universal.

Sumber: https://triwidodo.wordpress.com/2008/10/07/kesesuaian-ajaran-ki-ageng-suryomentaram-tentang-kramadangsa-dengan-ilmu-modern/

Konflik Antar Peran Dalam Diri Manusia Berego

Ego yang disebut oleh Ki Ageng sebagai Kramadangsa adalah kristalisasi dari mind. Kesalahan identitas yang memandang kombinasi kumpulan informasi (disebut catatan oleh Ki Ageng) dan kemampuan berpikir sebagai diri, membuat terbentuknya ego, yang semakin lama semakin keras dan alot. Apabila identitas tersebut diganggu maka dia akan bereaksi.

Kehidupan sederhana masyarakat perdesaan saat itu di sekeliling Ki Ageng memudahkan mereka untuk mengenali Kramadangsa, menuju manusia dimensi ke 4, Manusia Universal. Tidak demikian dengan kehidupan masyarakat modern yang sangat kompleks. Melampaui kramadangsa-ego adalah bukan pekerjaan yang mudah.

Karena kemampuan otak saya yang terbatas dan ketiadaan pemandu yang hidup maka pemahaman tentang Manusia Universal ala Ki Ageng, dalam diri saya mandeg. Apalagi semua itu hanya ada di dalam diri berupa pengetahuan, pemahaman yang belum dipraktekkan dalam hidup keseharian, maka terasa banyak hal yang belum memuaskan diri saya pribadi.

Menurut Ki Ageng, Kramadangsa, ego manusia, berisi semua catatan bermacam-macam seperti: (1) harta milikku, (2) kehormatanku, (3) kekuasaanku, (4) keluargaku, (5) bangsaku, (6) golonganku, (7) jenisku, (8) pengetahuanku, (9) kebatinanku, (10) keahlianku, (11) rasa hidupku.

Peran diri sebagai pencatat tentang kekayaan, sering konflik dengan peran sebagai pencatat kehormatan dan pencatat bangsa. Peran diri sebagai pencatat jenis pria sukses yang bertemu wanita cantik ataupun sebaliknya wanita cantik bertemu pria menarik, selalu membuat konflik dengan pencatat keluargaku yang harmonis.

Peran-peran pada diri manusia selalu dalam keadaan konflik sehingga manusia berego tidak pernah mengalami kebahagiaan sejati. Hanya Manusia Universal (ala Ki Ageng) yang bisa bebas dari konflik.

Pandangan Bhagavad Gita dan konfirmasi setiap pertanyaan kepada Master yang hidup

Setelah mengenal Anand Ashram, seluruh pertanyaan terjawab sudah, bagaimana caranya  bertindak agar dalam diri tidak terjadi konflik dan tahap-tahap laku yang harus dijalani. Pekerjaan yang sangat berat dan perlu komitmen yang sangat tinggi.

Dalam Bhagavad Gita, Manusia Universal dari Ki Ageng bisa dikaitkan dengan diri sebagai “saksi”, “bukan pelaku”. Bertindak dan merasa sebagai pelaku menimbulkan konsekuensi hukum sebab-akibat. Ego lah yang merasa diri sebagai pelaku tindakan. Kegelisahan terjadi saat kita bertindak sebagai pelaku, pemeran.

Dalam Penjelasan Bhagavad Gita 5:13 disampaikan:

“BADAN DAN INDRA SEDANG MEMAINKAN PERAN MEREKA DI ATAS PANGGUNG KEHIDUPAN – Jiwa menikmati pertunjukan mereka, tanpa melibatkan diri. Seorang penonton tidak terlibat dalam perbuatan film, pergantian adegan, dan sebagainya. Ia sedang menikmati tontonan — itu saja. Tiada sesuatu yang dilakukannya, tiada pula sesuatu yang terjadi karena dia. Pertunjukan berjalan sesuai dengan jalur cerita yang ditentukan oleh sutradara pertunjukan.

“BADAN DAN INDRA SEDANG MEMAINKAN PERAN MEREKA DI ATAS PANGGUNG KEHIDUPAN – Jiwa menikmati pertunjukan mereka, tanpa melibatkan diri. Seorang penonton tidak terlibat dalam perbuatan film, pergantian adegan, dan sebagainya. Ia sedang menikmati tontonan — itu saja.

“Jika Jiwa terlibat dengan semua itu dan menganggap dirinya sebagai pemeran, maka sudah pasti gelisahlah dia. Satu-satunya cara untuk meraih ketenangan adalah dengan cara memisahkan diri dari pertunjukan, dan menjadi penonton.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Silakan baca ulang: https://gitakehidupansepasangpejalan.wordpress.com/2015/07/11/renungan-gita-menyaksikan-badan-dan-indra-memainkan-peran-di-atas-panggung-kehidupan/

Yang melakukan tindakan adalah badanku dan indraku tetapi “bukan aku”

Para sahabat saya mengkhawatirkan bila kita terjerumus lagi dalam tindakan tidak baik, melakukan hubungan selingkuh dan perbuatan jelek lain dengan dalih: “kan yang melakukan tubuhku dan indraku ‘bukan aku’.” Tidak demikian, pelaku selingkuh dan perbuatan kelak lain tetap akan terjerat dengan hukum sebab-akibat. Sebelum menjadi “saksi” kita melakukan semua tindakan sebagai persembahan, persembahan bukan untuk menyenangkan ego, tapi persembahan kepada Gusti Pangeran. Kita tidak akan mempersembahkan tindakan kesadaran rendah terhadap-Nya.

Dalam Penjelasan Bhagavad Gita 9:9 terdapat ilustrasi gambar Sri Krishna yang sedang menari dengan para Gopi, dan dibawah gambar tersebut tertulis: Hidup adalah sebuah Permainan – Bermainlah dengan apik.

“Krsna menggunakan istilah ‘Udasina’ tidak terpengaruh oleh sesuatu apa pun. Pengalaman-pengalaman yang beragam dirasakan oleh Jiwa-Individu atau Jivatma, selama ia mengidentifikasikan dirinya dengan badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, dan sebagainya.

“Jiwa-Individu ibarat seutas tali dengan satu ujungnya berada di dunia ini, dan ujung lainnya ada dalam Sang Jiwa Agung. Jika ia mengidentifikasikan dirinya dengan ujung yang ada di dunia, maka ia mengalami suka dan duka. Jika ia menyadari dirinya sebagai bagian yang tak terpisahkan dari Sang Jiwa Agung, maka pengalamaan-pengalaman suka dan duka ‘terjadi’ tanpa mempengaruhinya.

“Ia tidak terikat dengan dengan pengalaman-pengalaman itu. Ia hanya menyaksikan adegan-adegan dalam film-kehidupan, tapi selalu sadar bila adegan-adegan itu adalah bagian dari pertunjukan film, drama, atau teater kehidupan. Ia menikmati semua tanpa keterikatan!” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Dalam penjelasan Yoga Sutra Patanjali I.24 disampaikan:

“PATANJALI MENJELASKAN BAHWA PURUSA Tidak Tersentuh atau Tidak Terpengaruh oleh tindakan-tindakan kita; maka dengan sendiri tidak pula menanggung konsekuensi dari perbuatan kita, apalagi menderita karena semua itu. Purusa adalah beyond, melampaui segala duka-derita. Sekarang, mari kita renungkan bersama. Bagaimana mengakhiri duka-derita yang sedang kita alami? Bagaimana membebaskan diri dari ingatan-ingatan dari dan tentang masa lalu? Bagaimana pula memastikan bahwa di kemudian hari pun kila tetap bebas dari scgala duka-derita?

“Tingkatkan kesadaran! Dari kesadaran jasmani, ‘aku fisik’; kesadaran mental, ‘aku berpikir’; kesadaran emosional, ‘aku merasa’; kesadaran intelektual, ‘aku pintar’, pun ‘aku bodoh’—pada Kesadaran Jiwa yang Hakiki, ‘Aku adalah Jiwa yang Tak Terpisahkan dari Jiwa Agung. Segala pengalaman suka dan duka adalah akibat perbuatan fisik, mental, dan emosional—dan interaksi antara indra dan alam benda. Aku, sebagai Jiwa, mengalami semua itu sebagai Saksi. Aku tidak tersentuh oleh mereka semua, sebagai seorang penonton, seorang saksi, aku tidak terpengaruh oleh adegan-adegan yang sedang kusaksikan, oleh apa pun yang sedang terjadi di sekitarku.’ (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Bagaimana cara meningkatkan kesadaran? Meditasi, melakukan sadhana, dan mempraktekkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s