Renungan #Gita: Kebatilan dan Kebajikan Bagian dari Kemahamuliaan-Nya

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Kebajikan adalah bagian dari Kemahamuliaan-Nya, akan tetapi Kebatilan? Kejahatan? Bagaimana mereka bisa menjadi bagian dari Kemahamulian-Nya?

Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita di bawah ini:

 

“Sebab itu hanya Engkau sendirilah yang dapat menjelaskan tentang kemahamuliaan-Mu yang meliputi alam semesta.” Bhagavad Gita 10:16

 

“Ini adalah anak tangga pertama menuju pencerahan sempurna. Melihat kemuliaan di mana-mana. Tidak ada lagi setan, iblis, dan makhluk lain yang sejajar dengan-Nya dan sedang memerangi-Nya.

“Kekuatan-kekuatan Negatif dan Positif – dua-duanya adalah bagian dari kemuliaan-Nya. Tidak berarti pula bahwa kita mesti merangkul negatif. Tidak, tidak perlu merangkul yang apa yang tidak menunjang evolusi Jiwa. Tetapi, tidak perlu membencinya juga. Apa yang kita tidak butuhkan – bisa saja dibutuhkan oleh orang lain, atau wujud kehidupan lain.

“Negatif bagi kita, justru barangkali positif bagi orang lain. Yang dibutuhkan adalah pemahaman tentang apa yang negatif bagi kita dan apa yang positif. Negatif tidak selalu berupa racun. Sebaliknya, kadang pil karbon yang beracun pun mesti ditelan untuk mendorong dan mengeluarkan racun-racun dari usus.

“Semuanya mulia.

Para penjahat pun bagian dari kemuliaan-Nya. Keberadaan mereka menciptakan kontras, sehingga pelaku kebajikan tampak jelas. Tanpa kejahatan dan kebatilan, kita tidak akan mengenal kebajikan.

“Namun, sekali lagi…

“Melihat Semua Sebagai Bagian dari Kemuliaan-Nya, tidak berarti kita membenarkan kejahatan dan kebatilan diri. Tidak. Kecuali, kita memang memilih  untuk berperan sebagai Hitler, menzalimi kaum Yahudi – sehingga mereka dapat simpati dari seluruh dunia dan memperoleh Israel.

“Perhatikan – di balik pendirian Negara Israel – peran jahat Hitler adalah yang menentukan. Tanpa Hitler, tanpa kezaliman yang dilakukannya, tanpa pembunuhan massal terhadap orang-orang Yahudi di Eropa – barangkali Negara Israel  masih menjadi sebuah impian.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

“Adalah kebijakan-kebijakan keliru oleh Shah yang berada di balik revolusi Iran yang mengantar Khomeini ke pucuk kekuasaan. Tanpa Shah, tak akan ada Khimeini. Revolusi Iran menjadi suatu kemungkinan karena keberadaan Shah.

Semuanya mulia – semua diliputi oleh-Nya. Kendati demikian, lagi-lagi pilihan di tangan kita. Mau jadi cacing di selokan, hewan berjubah manusia, manusia-manusiaan, atau melangkah lebih maju lagi, dan berupaya untuk menyadari kemuliaan diri – menginsafi hubungan Jiwa dengan Sang Jiwa Agung.” (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s